bohlam di langit pustaka

Posted: October 7, 2011 in Uncategorized

tampak dari balik tirai coklat yang sama semusim gugur kemudian, daun-daun pohon trembesi mulai berguguran, menorehkan warna emas tua di tepi jalan. samar-samar cahaya menembus sarang laba-laba yang mulai bertumbuhan dipojokan ruangan. waktu serasa berhenti beberapa lama semasa udara pengap yang mengawang diatas rak rak lusuh untuk saat-saat itu dan jarum jam masih saja menunjuk angka tiga sebelum kematiannya 2 jam lalu, atau kemarin, atau kapan lalu, ingatku 2 jam sebelum jam itu mati aku masih bisa melihat jarumnya di angka 1.

namun pagi itu terasa lain, musim gugur memang, tapi serasa ada jiwa baru untuk pustaka ini. dan benar saja, tak berapa lama pintu berderit dan terbuka. samar samar nampak sesosok baru memasuki ruangan, masih terlalu pagi atau memang kaca pecah ini terlalu susah untuk melihat seisi ruangan ini lagi.

sambil melihat ke seluruh penjuru ruangan, di rapikannya tumpukan buku usang di meja dengan benda berlayar cembung di dekat pintu itu. ketika didapatinya kunci ruang masih tergeletak di meja, dipungut dan disimpannya kedalam tas kerjanya. tampak aroma lain menyeruak mengisi segenap udara di ruangan itu ketika tampak tulisan “librarian” di name tag yang dikenakannya. foto cantik yang terpampang pada name tag itu menandakan sosok itu seorang wanita, menggantikan wanita yang sebelumnya.

dan waktupun berhenti, lelah sekali kaca bohlam tua ini.

———————————————————————————–

“kotor sekali ruangan ini” gumamku sambil membersihkan debu yang ikut menempel di kerah.

akupun beranjak meraih sapu dan dan kemoceng yang teronggok di belakang meja tunggu ini, meja kerja baruku. kususur lorong-lorong sempit itu dengan sapu sembari merapikan tatanan buku. dan seketika hilanglah semua debu dan kotor di penjuru pustaka itu.

———————————————————————————–

dan pintu ruangan berderit ketika ditutup. aku terbangun. kudapati bayang wanita itu menjauh meninggalkan pustaka ini dan perlahan hilang ditelan barisan pohon trembesi dipinggir jalan. saat kualihkan pandangan kebawah. barisan rak nampak rapi dan bersih, kilatan cahaya sesekali dipantulkan dari lantai yang tampak sudah mengkilap. tirai coklat bergoyang kegirangan ketika udara menembus kaca yang lama sekali baru terbuka. dan tak berapa lama pintu terbuka kembali. nampak dia menenteng plastik hitam entah berisi apa, kemudian diangkat dan dibawanya kursi kebawah langit-langitku sambil membuka plastik hitam tadi. kupicingkan kaca pecah ini untuk memastikannya, namun karena terlalu memaksa tiba-tiba semua warna menjadi pudar.

semburat putih mengaburkan dan menjemput sadarku sekali lagi.

———————————————————————————–

“ah, tinggi sekali letak bohlam pecah ini” pekikku sembari berusaha memutar, melepaskan lampu itu dari dudukannya. dan tak lama bohlam dengan kaca baru yang sedari tadi tersimpan di plastik hitam sudah terpasang kembali di langit yang sama, kemudian dengan agak terhuyung kuangkat kursi untuk pijakan tadi kembali ke tempatnya semula.

———————————————————————————–

tampak warna pelangi disela ujung kacaku saat terbangun, dan perlahan memudar berganti warna terang benderang secerah seharusnya. dan akupun tersenyum sendiri merasakan keajaiban ini, jiwa dan raga baruku yang sekarang terpampang di langit pustaka ini. terima kasih, dan sejuta kebahagiaanku kuucapkan untukmu. secepatnya kualihkan pandangan ke meja diujung pintu, namun tak kudapati wajah cantik itu disana.

“i …., i looooove, i lovee you” terdengar suara terbata disisi lain rak buku.

dan seketika kudapati pemuda idiot itu tengah melafalkan kalimat judul buku itu, barulah aku tersadar, seselama ini dia bersama kami menunggui wanita itu datang. dan baru sekali ini tampak wajahnya olehku, rupawan dan sederhana, ah sayang dia agak “terbelakang”.

“i love you”, kali ini lantang dan penuh semangat tanpa terbata ujar pemuda tadi.

oh, dibaliknya tampak wanita itu disana, sedari tadi mengajarinya membaca judul buku hitam itu yang bertahun dicoba dibacanya. tampak rona bahagia padanya, sembari bergumam “terima kasih” mewakili kegembiraannya dan mewakili terima kasih kami semua. diulaskan senyum, senyum yang diacuhkan penjaga sebelumnya, kemudian beruluk salam takzim dan bergegas menuju keluar ruang pustaka ini, untuk mencoba semua hal-hal baru di musim gugur dan musim musim lainnya nanti di luar sana. hari-hari yang sudah pasti cerah, tanpa suram dan gelap lalu.

sekarang dari sini dapat kucium wangi aroma lemon musim gugur yang ditebarkan pada udara ruang ini, dan cahaya menerobos memasuki sela sela buku di tiap rak yang berlabirin-labirin, menjadikannya petunjuk untuk membaca tiap huruf yang menyembul di masing-masing kolom. gema suara pemuda idiot tadi, “i love you” seakan abadi bergaung hingga bisa memaksa jarum jam yang mati menjadi berdetak kembali. namun hal yang seakan menjadi permata di ruangan ini, tiada lain di ujung meja di dekat pintu, pada sesosok wanita sederhana itu, bidadari pemberi semangat pada jiwa yang mulai hampa…

kesaksian bohlam tua

Posted: October 6, 2011 in Uncategorized

rona sore yang sama kulihat, tampak siluet matahari sore diantara tirai coklat usang di kolom ruangan itu. jejeran rak tampak rapi memanjang membentuk labirin dengan deret-deret abjad judul buku yang menyembul di masing-masing sisinya. bahkan, orang yang belum pernah kesitu pun pasti akan tersesat di ujung lorong rak-rak buku itu, sempit dan miskin cahaya, apalagi menjelang petang seperti sore yang sama ini. di ujung pintu, bersembunyi diantara tumpukan buku tua yang belum sempat dikembalikan ke raknya, atau bahkan tidak ingin dikembalikannya untuk menutupi mejanya dari pandangan orang yang mungkin melihatnya di ruangan itu atau sekedar berolok bahwa banyak yang membaca dan meminjam buku di pustaka itu, seorang wanita berkacamata tebal sedang berkutat dengan solitaire dan chat room yang tersedia di layar cembung itu.

ketika malam mulai beranjak naik, sambil bermalas, disangkutnya saklar lampu disamping meja sekenanya. seketika lampu pada tiap-tiap ujung ruangan dan sebuah lampu besar di tengah menyala redup dan perlahan benderang. diperhatikannya tiap-tiap sudut ruangan itu, hingga pada satu titik dia terperangah.

“huh, dia lagi”, gerutunya dalam hati mungkin, ketika disadarinya tampak di sudut ruangan ada seorang pembaca yang sibuk dengan bukunya.

pemuda kurus di ujung rak itu, setengah “terbelakang” mentalnya, aku tahu, menurut penjaga sebelumnya yang sudah dua tahun sebelum dia,yang berkata kepada wanita itu. wanita yang menggantikan penjaga sebelumnya hingga sekarang tahun ke empatnya menjaga pustaka itu,dia pemuda idiot selalu belajar mengeja dengan buku yang sama di ujung rak itu. dari setiap jam buka hingga pustaka itu tutup, tapi entah, apa pemuda itu terlalu idiot atau memang hal lain yang menyebabkan pemuda itu selalu disitu.

“ah apa urusanku dengannya”, gumamnya lagi mungkin sembari meneruskan obrolan mayanya.

tak lama, pekik adzan isya berkumandang lirih menembus pintu kaca yang sengaja sedikit dibuka untuk menandakan pustaka itu buka. dari atas langit-langit dapat kulihat, dialihkannya pandangan ke ujung rak, dan masih tampak pemuda kurus itu tergagap-gagap, seperti berusaha mengeja kata atau bahkan huruf yang sukar dibacanya atau entahlah, sukar diingatnya, atau bahkan memang dia terlalu bodoh untuk sekedar bisa membaca. lalu selama ini sedang apa dia. tampak pikiran wanita itu berkecamuk…

“bodoh apa?”, mungkin fikirnya, dan tampak sambil pelan-pelan beranjak dari kursi malasnya itu.

seketika dia berjalan pelan menuju arah rak itu, hingga pemuda tadi tiada menyadari kehadirannya. sembari melongok dari punggung pemuda itu, diintipnya apa yang sedang dibacanya. ternyata dia hanya memegangi buku berwarna hitam bertuliskan beberapa huruf berwarna merah muda atau mungkin merah darah di sampul kelamnya. terlihat seperti berusaha membaca judul buku itu, namun dengan terbata-bata dan berusaha mengingat-ingat itu huruf apa.

“I …..E YOU” ah sial, tiga huruf di depan huruf e pada judul sampul buku itu tertutup lengan pemuda idiot tadi” gerutu wanita tadi dalam hati mungkin.

ketika pemuda tadi menyadari ada seseorang di belakangnya, dia berbalik dan diulaskannya senyum kecil kepada penjaga pustaka.

“aih, knp tersenyum lo!!!”, terdengar hardik wanita itu sembari bergegas berlalu pergi kembali ke mejanya ketika pemuda tadi menyadari kehadirannya sambil menyesali kebodohannya pergi ke ujung rak itu.

namun sejurus kemudian, seringai senyum merona dibalik wajah wanita itu kudapati dari atas sini, ketika dari balik layar cembungnya didapati sebaris ajakan makan malam dari pujaan hati yang beberapa waktu mendekatinya dan juga menawarkan pekerjaan baru baginya. sambil membayangkan hangatnya suasana restoran favoritnya, diseling iring-iringan musik sambil menikmati santap malamnya, sesegera dia bergegas, mengemasi barang-barangnya dan mencabut paksa colokan listrik mesin berlayar cembung itu, dan mematikan lampu ruangan pustaka itu. seketika menjadi gelap, dan wanita itu bergegas keluar dari ruangan itu . meninggalkan kunci ruang pustaka tergeletak disamping meja, dan mematikan semangat pemuda idiot itu untuk belajar membaca, atau entah pemuda itu benar-benar berniat belajar membaca dan mengeja kalimat I LOVE YOU atau I HATE YOU yang dari langit-langit ini terlalu samar terlihat, atau hanya berpura membaca untuk menemani wanita tadi menjaga perpustakaan yang selalu sepi itu. atau entahlah, toh tiada orang lain yang ingin tahu .

aku, sebuah bohlam tua dan pecah di ujung langit-langit pustaka itu.

Airmata Rasulullah Muhammad SAW

Posted: September 20, 2011 in Uncategorized

muhammad

image taken from : here

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”, tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
“Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?”, tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
“Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”
“peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii,ummatii,ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

dari maillist

somewhere over the rainbow

she, apa yang sedang dia lakukan sekarang? apakah dia baik baik saja. bertanya tanya selalu kepala ini sedari pagi, tidak saja pagi tapi juga saat ini. saat aku duduk, termenung, makan, dalam perjalanan, bahkan saat aku berada di samping kawan kawanku hari ini…

she. aku nggak tahu apa yang dilakukannya sekarang. sudahkah dia makan. atau mungkin saat ini sedang duduk duduk di tempat makan samping kantornya. atau sedang menyeduh segelas teh manis hangat, atau hanya duduk duduk di depan komputernya. menghindari sinar matahari yang menyengat siang ini. atau …. semoga dia tidak merasa sendirian. tapi kurasa dia tidak akan pernah merasa kesepian.

saat petang, kira kira apa yang dia kerjakan? apakah masih selalu seperti dulu. ataukah sedang melakukan rutinitasnya yang baru dengan pacarnya itu. atau hanya duduk duduk di kursi itu menanti saat pulang…

sejenak semua sakit yang dibenamkannya terkalahkan dan kuakui aku kalah hari ini dengan prasaan ini. seperti halnya perasaan untuk dia di sebelah dunia lain sana yang sangat ingin kudengarkan nasehatnya. ibu…

Enter title here

Posted: September 19, 2011 in Uncategorized

hilanglah semua, tiada lagi yang bisa kupetakan dan kuyakin karena memang dirimu sekarang sangat berbeda dan warnanya terlalu berlainan. walau terkadang berbisik terlalu pelan hati ini, namun mengingat semua yang sudah terjadi, semua sakit, pedih, luka, atau aku atau semua. hingga semua sekat dan batas terlalu jauh untuk dilampaui, dan bahkan corat coret disini pun terlalu susah dihapus sekarang. tak akan aku bertanya lagi dimana itu janji, ikrar atau tautan, karena hanya benci yang kuingat sekarang.

sebuah tujuan yang sudah pasti kemana. tentu ke depan ke tempat yang jauh dan penuh belokan dan jalan yang janggal, kadang gelap. tapi lihatkah dulu, selalu kubawakan kompas di saku, yang aku sembunyikan dibalik rusukku, kutuntun engkau kala jatuh, kaupun memberikanku pegangan yang kuat kala aku tersesat, dan kita berjalan menjaga lentera kita supaya tidak padam, dan di suatu belokan, hanya kesia-siaan.

di keningmu hanya suram sekarang yang kubingkaikan, aku menyesal jalan dan cara seperti ini yang kamu pilih, walau terkadang, setiap rinai hujan selalu membiaskan cantikmu, menghidupkan wangimu yang sudah pasti akan pudar suatu waktu dan kutahu dalam tawamu sekarang pasti masih tergurat ketakutanku, bahwa aku pernah menjadi hidupmu seperti saat terbaringku di lorong sempit itu. tapi sekarang kamu tahu? aku tidak takut bahwa aku hanyalah sebait kata atau mungkin berbait bait kata tapi tiada terbaca lagi, karena bagiku dewi hujan itu hanya sebuah kisah yang berakhir suram. seperti musim semi yang pasti berlalu.

jika teringat, sebenarnya aku merasa malu mengemis begitu banyak keinginan, datang dengan mata yang sembab, bibir yang kelu bahkan perilaku yang mulai janggal hanya untuk mendapatkan perhatianmu dulu? dan aku sadar, sejauh apa aku berlari dari rasa duka dan kasihan ternyata dirimu disitu waktu itu, hingga kutengadahkan tanganku padaMu disetiap malam itu, hanya malu dan kesia-siaan yang kudapatkan.

tentang awal dan akhir, walau terlalu banyak malam yang mengingatkan aku dengan saat bahagia itu namun pasti terhapus oleh ratusan malam malam yang sepi yang kaubangun tanpa tersadari, hingga berujung kegagalan ini, bahkan sekarangpun aku enggan membaca tulisan tulisan ku sendiri yang memuakkan tentang tembang tembang kerinduan dan kala yang ku gigit dalam usaha memekikkan dewi hujan yang kurindukan tiap malam ….

“kamu kekasih ? ….”
wajahmu hanya diam dalam onggokan kardus usang, dialah fotomu. berlalu beriring suara-suara yang sudah mulai hilang. lalu dendang lagu tidurmu kala malam , tiada lagi kubayangkan …

dua waktu

Posted: September 16, 2011 in Uncategorized

awal september ini, aku beranjak menuju jalan takdir lain, jalan ke depan yang masih jauh, namun pasti cepat bagiku, karena tiada lagi belenggu yang tidak berguna itu.

sedikit kilas balik, 2 tahun ini banyak hal yang terjadi, mulai dari awal tahun dimana Ibu alm. masih dalam keadaan sakit hingga beliau dipanggil oleh Allah SWT dalam usia yang masih dibilang muda 47 tahun. Perasaan rindu padanya ini pasti akan sangat membesar sampai kami dipertemukan kembali nantinya pun aku juga masih gamang apakah di dunia nanti perasaan kami masih seperti di dunia fana ini. Tapi terlepas dari itu, insyaAllah dalam setiap doa pasti kupanjatkan nama beliau.

kemudian beranjak ke masa setelah itu, alhamdulillah dah diberi ijin olehNya untuk menempati rumah di skitaran jagakarsa jaksel, namun kurasa sih hanya perpindahan tempat tidur, dari kamar semula yang hanya kurang dari 3 kali 3.5 meter pindah ke sebuah bangunan sederhana di pinggiran jakarta. Semuanya masih terasa sama seperti di slipi, malam-malam yang hening, tembok tembok yang baru dan semoga bukan sebuah tembok ratapan lagi namun tembok-tembok harapan, plus perasaan kehilangan teman-teman baik di slipi yang sewaktu masih disana bisa aku datangi kapan saja saat sepi datang.

lepas dari kedua hal tadi, ada satu peristiwa besar lagi, yup masa2 yang terulang lagi. tp ya sudahlah mampunya seperti itu dan akan selalu seperti itu.

———————————————————————————————–

berteman debu sepanjang jalan. meniti hari penuh keyakinan. masamu akan tiba kawan. jangan menyerah hanya kerna sebuah kerikil dan duri kecil yang mencoba mengganggu perputaran Jalinan cita cita yang sudah terpancang.

another fact …

Posted: September 13, 2011 in Uncategorized

satu fakta lain

cruchbehindme

seberapa panjang garis kesetiaan yang bisa kamu ukur? tidak lebih dari 0,1 mm tidak lebih dari itu.

kartu lebaran TUC / seneng trenyuh

Posted: September 9, 2011 in Uncategorized

setengah kaget, sehabis makan siang ketika nyampe meja nemu amplop putih. aku cek-cek ternyata bukan thr yg ketinggalan, soalny ada stempel pos dan perangkony. seketika kubuka, ternyata isinya kartu pos dari ketua …

amplop

amplop

rasanya seneng dapat ucapan kartu pos, karena lama nggak nerima kartu kek gt. terakhir nerima kartu gitu dari fufu yang waktu itu lagi iseng. tapi sekaligus trenyuh jg, karena disitu tertera harapan beliau untukku dan “mbaknya” yang memang beliau sering ketemu dengannya yang sering kuajak menghadiri acara TUC. oalah pak, wingi neng omah nembe meh tak tembung wong tuwaku ben besaran iso nemoni wong tuwane, tp mbalik-mbalik bocahe wes karo wong liyo pak. sepuntene mboten saget menuhi harapan njenengan puniko . anyway, makasih pak ketu, ternyata njenengan perhatian jg sm anak-anak buahnya.

coba rasakan ?

Posted: September 9, 2011 in Uncategorized

seperti lirik lagu yang sering kugunakan untuk menggodanya kalau karaoke. lagu yang dibawakan imam s arifin, pada reff ny “ismawati” yang kurubah dengan nama belakangnya. itulah perasaanku sekarang. tidak pernah kuduga akan berakhir lagi seperti ini. ak terlalu memegang komitmen ini dari awal, berharap akulah yang dipilihnya untuk menemaninya sampai tua. menjadi pelabuhan terakhir hatinya, menemani ku di rumah kecil pinggir jakarta yang kita pilih bersama itu, membesarkan anak-anak kita. tapi semua hanya impian yang sudah rusak sekarang. rumah yang sudah berusaha kubuat layak sekarang, walau belum sempat membuat taman dan pagar yang layak agak mobil bisa lebih mudah masuk seperti pintamu. aku ingat sekali, “kamu tinggal disisi sebelah kiri, dan aku di sebelah kanan yang ada pintunya, jadi kalau mau lewat harus bayar ke aku” ucapmu bercanda waktu itu. mungkin itu pertanda?

Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang berat untuk hambaNya, namun kenapa harus sekali ini lagi. Bukankah Dia tahu, bagaimana saat-saat beratku dahulu saat dia pergi. Harusnya aku sadar, saat dirinya mulai berpaling. saat mulai mempercayai aku bukanlah tujuannya, menghindari komitmen ini lagi. Kalau dahulu, aku masih bisa berusaha menerima, karena dari awal dan diujung masa itu aku belum bisa memenuhi tuntutannya dan aku rela mengalah untuk orang yang sama denganmu. Namun, setelah dia kembali dan komitmen itu, maka kuyakini dan kuusahakan segalanya untuknya, menjadikan itu nafas dan semangat hidupku selama ini. karena aku tiada ingin mengecewakannya dan karena aku inginkan dia menemaniku. Walau kita berbeda, tidakkah cukup selama ini untuk kamu tahu keadaan ini sudah cukup membahagiakanku, karena dari awal aku menerimamu seperti kamu yang tidak bisa seperti aku, walau komitmen di awal kamu harus sama denganku, tidakkah kamu mengerti bahwa selama ini aku bahagia dengan seperti ini, di dekatmu.

walau ucapku masih memperjuangkan komitmen dan janjimu, tidakkah kamu bisa lihat di wajahku bahwa aku selalu di dekatmu, memandangimu dalam dalam seperti memandang sebelah rusukku hingga sesaat sebelum kita berpisah di bandara kemarin.menjaga dan menginginkanmu harapanku. salahku, aku tidak bisa membaca tanda bahwa kamu inginkan orang yang sama denganmu, seperti saat ini. ada dia yang berusaha masuk pelan-pelan dan aku bisa membaca gerak-geriknya, sehingga semua menjadi meruncing, saat aku butuh waktu untuk memutuskan memakan buah simalakama itu. salahku, aku membuang terlalu lama waktumu walau waktuku yang selalu lebih lama terbuang untukmu. salahku, tidak bisa membaca tanda-tanda aku bukanlah tujuan hidupmu.

dulu ketika ibu akan pergi februari 2010, beberapa bulan sebelumnya, setelah lebaran 2009, beberapa kali kelopak mata kiri bawah kedutan. aku cari di internet, apa artinya. ternyata aku akan bersedih dalam waktu-waktu dekat itu. dan ternyata benar, aku kehilangan ibuku, yang tiada bisa aku lepaskan dari sakit yang dideranya “maafkan aku bu”. wanita yang baru akan mulai merasa bahagia saat anak-anaknya sudah tumbuh besar, menempati rumah yang layak metamorfosa dari gubuk awal mulai keluarga kami tempati, mencuci dengan mesin, mencuci piring tidak di ember lagi, sehingga beliau tidak perlu bercapek-capek seperti saat merawat kami saat kecil. saat aku mulai bisa memanjakannya, memperbaiki rumah dari hasil jerih payahku disini, membelikannya perhiasan, hingga menyaksikan adikku menikah. namun sayang ketika kebahagiaan beliau mulai terwujud, dan belum sempat menyaksikan cucu ny lahir dari rahim adik iparku, beliau pergi. dengan semua usaha keras kami, dengan semangat besar ibu untuk sembuh, bahkan aku masih ingat kutip ucap ibuku ke bude sri malam sesaat beliau koma “yu, aku kudu waras yo yu / kak, aku harus sembuh ya kak”, namun diawal dia akan mulai bahagia di hidup susahnya sedari kecil, dia pergi. secara kebetulan kedutan tersebut benar.

dan beberapa saat kemarin, kelopak kanan bawahku yang kedutan. beberapa hari di waktu-waktu yang berbeda. aku cari artinya, arti yang sama. dan sekarang saatnya. kadang aku ingin, orang lain berfikir dengan menempatkan dirinya diposisiku, berusaha merasakan dan berfikir bagaimana aku jika dia melakukan suatu tindakan. bukan hanya kehendaknya sendiri. karena selama ini aku berusaha seperti itu baik untuk dirinya ataupun orang lain. selama menjaga komitmen ini, banyak bunga lain yang datang padaku saat mereka gundah. tapi ndak, syukurku slama ini masih bisa menempatkan posisiku di orang lain. salah satunya Nxx, cantik dan jauh lebih cantik dimata orang normal, bukan dimata orang yang sedang gila ke dia seperti aku, sama denganku tidak sepertinya yang berbeda. sedang bermasalah dengan pasangannya, dan kemudian berusaha masuk ke diriku karena menemukan nyaman denganku. namun syukurku, aku masih bisa menjaga hatiku selalu untukmu, menjaga hati dan perasaan pasangannya yang sedang bermasalah, aku tertarik memang, namun karena aku sedang berkomitmen lalu haruskah aku membuangmu yang belum jelas jluntrungannya denganku lalu mengambil kesempatan dengannya, menyingkirkan pasangannya. tidak, sama sekali tidak, justru selama bunga bunga lain itu datang, hal seperti itulah dan akan selalu seperti itulah yang aku jaga. karena aku nggak ingin, suatu saat nanti ada yang melakukan hal itu kepadaku. Karena Aku juga tahu selama ini juga banyak yang kamu singkirkan yang mendekatimu, walau ada satu …

sekarang, coba rasakan. bagaimana perasaan ku. walau menurutmu kamu melakukan ini agar nantinya aku ada yang menemani saat sahur berpuasa dan lainnya, bukan untuk agar dirimu mempunyai orang yang bisa melakukan hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan, namun tidakkah selama ini bisa kamu lihat hal seperti sekarang saja sudah sangat cukup untukku, lalu dimana komitmen itu. aku tahu benar sifatmu, dan aku mengerti itu, aku bisa menerima itu, sebagaimana engkau mengerti sifatku yang suka mengasihani diriku sendiri, karena jika bukan aku yang mengasihani diriku sendiri lalu siapakah yang perduli. sekarang, bukan seperti ini yang aku harapkan. tidak akan sesakit ini, jika bukan dia yang memperuncing masalah ini orang yang bisa kuendus langkahnya beberapa waktu sebelumnya. tidak akan semenderita ini, jika kata udah benar-benar kita sepakati berdua bukan dari sisimu saja, karena sampai saat ke bandara kemarin bagiku semua masih nampak wajar-wajar saja. aku hanya berangan, tidakkah kamu berusaha menanyakan padaku saat kamu menerimanya, dia yang memang sama sepertimu dan bermasa depan lebih baik, karena saat itu kamu masihlah tujuanku walau ternyata bertolak belakang dengan yang ada di pikiranmu. sekarang, semuanya hancur, dan coba rasakan hal yang tidak akan kamu rasakan ini karena kamu di pijakan yang lain dalam posisi sedang berbahagia …

my cute litle nephew

Posted: September 8, 2011 in Uncategorized

anin

nama panggilannya anin (1.5 tahun), putri kecil adikku yang lahir wetonnya sama persis dengan almarhum ibuku, kalau kata orang2 ibuku nitis ke dia apalah. cewe cantik yang beberapa hari selama lebaran setia menemaniku. baru bisa berjalan, dan ketika berlari-lari kecil masih terhuyung ke sana kemari, lucu sekali. ketika baru tiba walau sudah kuberikan boneka dan baju yang sempat kubelikan dari jakarta, hari itu seperti halnya dengan ke orang baru yang lain, kalau didekatin nangis karena memang dasarnya anin ndak mudah ngikut ke orang baru. herannya walau takut, sesekali matanya melirik ke pak puh nya yang baru ditemuinya sekali ini, namun ketika ditatap balik sesegera memalingkan pandangannya. perangainya itu mengingatkan aku ke ponakanku dina, putri temanku retna yang wajah dan perangainya hampir mirip dia, namun dalam beberapa saat saja sudah bisa ak ajak bermain. berbeda dengan anin, hari itu praktis hanya adikku bungsu yang menemaninya bermain.

esok harinya, ketika terbangun dari tidur lelapnya dan menangis kencang, ibunya pun semburat menenangkannya. setelah berjalan keluar kamar sambil mewek diikuti ibunya dibelakang, dia berjalan ke arahku, minta digendong. kugendong keluar rumah, nglihat ayam seketika raut mukanya cerah, tertawa sambil bilang “ayam”. kemudian ketika dia melihat bunga, dia berguman “pupu” sambil menunjuk ke bebungaan di depan halaman rumah. akhirnya seseharian hingga malam kutemani ponakan kecilku itu, mengajari nama-nama hewan di buku gambar, mengejarnya berlari-larian kecil sambil mendengarnya tertawa terkekeh-kekeh. dalam hatiku saat itu, aku harus bisa mendapatkan seperti anin secepatnya darinya. Mungkin memang aku dikaruniai kemampuan menaklukkan hati anak kecil, Selalu bisa aku teduhkan hati anak-anak kecil itu di dekatku, seperti halnya aku kepada andi, fara, dipta, putra, inal ponakan-ponakanku yang lain yang semasa dulu sering dititipkan ke aku ketika ibu bapaknya tidak ada padahal ketika dititipkan atau diajak orang lain rewelnya minta ampun.

beberapa hari berikutnya, aku “galih kakak tertua”, adikku “galih adik tertua” dan istrinya, serta adik bungsuku “galih adik termuda” silahturahmi ke kota sebelah, menjalin hubungan baik dengan saudara-saudara dari keturunan alm. ibuku yang sekarang praktis hampir putus hubungan dengan bapak ketika bapak menikah lagi. mengendarai 2 sepeda motor, kami membelah jejalanan yang biasanya sepi namun ketika lebaran menjadi super macet itu. melintasi jalan sepi ditengah sawah hingga ke tiba ke rumah bude sri “kakak alm ibu” di kota sebelah. sesampainya setelah beramah tamah sebentar dan melepas penat, karena memang di rumah itu sudah seperti rumah kami sendiri akhirnya anin bertebaran kesana kemari. lagi-lagi uluran tangan adikku paling kecil yang biasanya menemaninya main di surabaya saat waktu senggang kuliah ditolaknya. praktis hari itu dari rumah ke rumah saudara di kota itu, aku yang menggendong dan mengajaknya bermain. sampai pegal rasanya tanganku menggendongnya hari itu.

pada hari terakhir keberangkatanku kembali kejakarta dengan membawa kabar baik dari bapak untuk jalanku, ponakan kecilku hari itu sangat aneh sekali. bawaannya selalu dekat dengan pak puh nya ini. ketika aku tidak ada di rumah, dicarinya kesana kemari, ke kamar ku, bahkan seisi rumah diputerinnya. dan ketika ketemu, selalu mengajak bermain dengan bola dan boneka yang aku bawakan kemarin. hari itu, seolah dia tidak ingin melepaskan pak puh nya yang malang ini kembali ke jakarta, bahkan sampai dengan keberangkatanku ke stasiun, menangis dia kala direnggut dari gendonganku sambil matanya menatap tajam ke arahku, mata ibuku.

dan sekarang aku sudah di jakarta, dengan keadaanku sekarang. dengan luka yang kembali menganga untuk kesekian kali. untuk ponakan kecilku yang lucu, terima kasih senyum kecilmu yang selalu kuingat saat sedihku disini. sehat-sehat dan cepat tumbuh besar lah, jadilah gadis dewasa yang dapat dibanggakan ayah ibumu, berguna dan mengerti serta toleran terhadap orang lain. selalu tersenyumlah untuk pamanmu ini …