ilustrated
Waktu dulu itu aku masih sekolah dasar. udara dan lingkungan tidak sepengap dan semeriah kota besar ini. di sudut kota kecil itu aku menunai beberapa pelajaran, sejuknya angin dan meriah nya derik jangkrik kala malam. aku pria kecil hanya punya sebuah semangat dan tekat kelak aku akan menjadi insinyur teknik seperti habibie.
sejak awal catur wulan tiba, kala itu adalah masa masa susah bagi keluarga kecil kami. Bapak hanya seorang guru . sebagai seorang sulung dalam hatiku aku ingin membantu mereka dan melindungi adik adik ku. pagi itu kami diantar bapak ke sekolah, sejuk embun pagi masih menempel di dedaunan. setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh bagi ku akhirnya kami sampai di sekolah dasar negeri kutorejo. Lumayan jauh tapi bagi bapak dapat memberikan bekal yang berguna bagi masa depan kami. walaupun jaraknya berkilo kilo dari rumah kami, dan bukan sekolah dasar di dekat rumah.
kulangkahkan kaki kuyu ini ke dalam kelas, aku terlambat. gemerisik bisikan teman teman dan cekikikan teman sebangku berlalu saja di kepala ku.
“selamat pagi.”sapa bu suci yang kuacuhkan saja
dalam hati tiba tiba aku menggerutu
“kenapa mesti disini, disini kan jauh pak.”
hati kecil yang membutuhkan penjelasan mengapa berkilo kilo aku harus pergi sementara teman teman sepermainan ku bersekolah di samping rumah.
“selamat pagi *****.”ulang bu suci
“selamat pagi bu.”ulang ku lemah
aku tidak mengacuhkan pelajaran, penjelasan panjang lebar tentang pemuaian tidak semenarik pembagian kemarin.aku memandang bu guru penuh harap seakan aku memandang ibu, bulan depan naikkan uang saku ku ya bu jangan dipotong buat naik angkutan kalau pulang sekolah. aku mau kok sekolah di dekat rumah.
bel istirahat berbunyi tepat pukul 9.30pagi, kuhamburkan keluar kelas diri bagai seekor kuda yang melesat dari palang pacuan. satu satunya tempat yang kutuju adalah kantin. beberapa receh kukeluarkan dari saku. satu dua tiga receh itu beralih dari tanganku. aku tertawa bersama teman ku anak seorang dokter spesialis penyakit dalam.”*****, mengko nang omah ku piye, aku nduwe dolanan anyar.wingi ditukokne bapak nang suroboyo.”
aku mengangguk tanda tidak, karena setiap aku pulang, aku harus menunggu adik ku dan kami akan pulang bersama sama ke sudut kota yang lain.
Lonceng tanda pulang sekolah dibunyikan pukul 12.00 siang. siang itu aku lebih dulu keluar kelas dari adik ku. sambil duduk kutunggu di gerbang sekolah sampai dia datang.
“mas, pulang yuk ***** dah lapar.” ujarnya
kuacuhkan dan kutinggalkan adikku agak di belakang,
“barangkali ibu ga membiarkan aku sekolah di deket rumah biar aku tidak bisa bermain bersama anak anak kalau pulang sekolah,” gerutuku.
sesampai di pangkalan angkutan kota, kurogoh saku celana merah. kuulang hal serupa di saku baju putih. tidak terdengar suara gemerincing receh. uang kami telah habis, ibu…
rumah ku berjarak setengah jam kalau naik angkutan atau satu jam berjalan kaki dari sekolah dan setelah itu harus ditempuh jalan kaki sepuluh menit dari jalan raya. aku harus bagaimana, apakah adikku kuat. Aku menitikkan air mata.andai aku sekolah di deket rumah.
“dik, uang mas habis tadi buat bayar bulan dana PMI.”aku berbohong
adikku mengangguk, “terus bagaimana kita mas, jalan kaki aj yuk.”kata adikku
kasihan adikku dia masih kecil waktu itu. usianya terpaut dua tahun dibawahku. aku duduk di kelas empat dan dia duduk di kelas dua.
kubawakan tas adikku, kami berdua berjalan kecil mencari jalan tercepat menuju rumah. sesekali kami bergurau.
“mas, nggak lapar?”kata adikku.
aku mengangguk, sebentar lagi kita tiba di rumah ujar ku.
melewati bantaran sungai brantas, menyeberang jembatan tua peninggalan belanda, dan berjalan menyusur jalan raya propinsi sampai kira kira kurang seperempat perjalanan.
dari jauh kulihat ibu. mengayuh sepeda ke arah kami. tahun itu hanya sepeda motor satu satunya dipakai bapak untuk mengajar di sekolah. sedang ibu setiap hari nya memakai sepeda itu di rumah. aku sadar bulan itu masa masa sulit, ibu menyusul kami karena kami sudah terlambat satu jam dari jam biasanya kami pulang. Dari warna wajahnya aku tahu beliau khawatir. Ibu tidak naik angkutan… siang itu siang yang panas. ibu maafin aku…
sudah dua belas tahun lebih masa itu berselang .sekarang aku telah mendapat pekerjaan yang layak walau kadang aku belum puas dan terasa melenceng dari cita cita ku semasa kecil. dan aku mengerti mengapa bapak memilih sekolah itu . ketika aku merasa kesepian dan jauh dari rumah sekarang. aku sadar bahwa beberapa orang telah membuat keputusan yang sangat berguna untuk ku dan mungkin masa depan ku. untuk kesalahan ku masa itu, maafkan aku ibu “Tuhan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku selagi aku masih kecil”doa yang selalu kupanjatkan untuk bapak dan ibu ku…
cerpen yang kutulis di pertengahan tahun 2006 dan pernah ak posting di intranet, hari ini ak ingat skali sama ibu mungkin gara2 habis pulang kampung lebaran lalu. Ibu pet sembuh y…
pict taken from http://endjivanhouten.files.wordpress.com