BOSSCHA VERSUS GLOBALISM INDUSTRY

December 29, 2009 - 2 Responses

membantu petisi kawan dari bandung di http://www.kaguheroes.blogspot.com/

SETELAH observatorium Boscha dibuka pada tahun 1923, akhir- akhir ini muncul isu tentang adanya pembangunan super mall dan pusat komputer, ironisnya, Boscha yang menjadi salah satu dari sedikit observatorium di bumi bagian selatan harus di hadapkan dengan “penggusuran” tersebut.

Juga seiring maraknya permukiman, hotel, dan vila di Lembang, pencahayaan dari hunian tersebut membuat langit malam di observatorium menjadi lebih terang sehingga menyilaukan pengamatan obyek.

Selain itu maraknya permukiman juga menimbulkan perubahan temperatur dan aliran udara di sekitar kawasan observatorium sehingga menyulitkan penentuan posisi bintang (astrometri).

Demikian pula tingginya frekuensi arus kendaraan yang melintasi jalan, menyebabkan kadar aerosol di langit Lembang meningkat sehingga menyulitkan penentuan astrometri dan pengukuran kuat cahaya (fotometri). Padahal, penelitian astronomi sangat tergantung dengan kondisi langit.

ini adalah petisi yang kami kumpulkan secara online, yang bertujuan untuk memperkuat susunan “amunisi” dan legalitas bukti dukungan dari masyarakat yang peduli akan keberadaan BOSSCHA khususnya warga bandung dan sekitarnya untuk menyuarakan penyelamatan BOSSCHA.

SELAMATKAN BOSSCHA SEKARANG, KAMI MENOLAK PEMBANGUNAN DI AREA PENYANGGA OBSERVATORIUM BOSSCHA TEMPAT BELAJAR KAMI DAN ANAK ANAK KAMI !!!

ISI PETISI DISINI untuk membantu boscha

lagi pengen berandai-andai

December 23, 2009 - Leave a Response

pengen punya batu nya ponari

pengen kesamber gledek trus dapat gift

trus pengen jadi dokter

trus pengen punya rumah sakit

pengen jadi ki joko bodat

pengen bisa kek dukun sakti

pengen bisa ngrukyah “semoga bener nulisny”

pengen sesuatu yang berlebih

tp intinya pengen tuh biang kerok segera pergi 2 jauh

pun telad, met hari ibu

seneng masih diberi kesempatan denganmu Ibu

karang retak

December 16, 2009 - One Response

UNtuk B3rkOrbAN 53k4l1pun t1ad4 d1pand4N6
UNTuk d1sak1t1 k4ren4 4Ku kuAt
unTuk nd4 diP3dulIK4N kAren4 akU H4Ru5 1Kl45
untuk m3nJ4Di t3mp4t b3Rn4un6 544t 53d1H 5K4l1pUn 544t B4h461A 4ku D1t1n664LKAn
unTUk kH4W4T1R
uNtuk N664 ada y6 men6ert1
unTUk N664 d1P3DUl1k4n 54at 4ku b3rkEIn61n4n
Untuk d1mar4h1
unTuk m3nc0b4 54b4R 4t45 53Mu4 y4n6 4Ku 4l4m1, k4r3na ba6iKu K3b4H4G144nNy4 l3b1h peNt1n6 d4R1 K3b4h461A4nku 53nd1r1
T4p1 53b3n4Rny4 t14d4 yan6 p3rNaH minta 5Up4y4 4ku 5Ep3rT1 1Tu
5mua 54L4hKu PunY4 p3rAsa4N 53p3rt1 1tU
4ku b0doh

jika M3mAn6 53mU4 h4ny4 b3rcANd4 53m0g4 1N1 m3ruP4k4N b4614N bc4nDa jU64
m44f j1k4 4Ku nUliS 1n1
s44t hAtIku b3nar2 k4c4u 53P3rt1 1n1

tulisanku hampir 3 tahun yang lalu. karang retak, dan masihkan aku seperti itu? semoga tidak

tumini

December 14, 2009 - 2 Responses

rekaan?

namanya tumini, seorang perempuan berkulit hitam legam namum tinggi semampai. tumini, jauh di lubuk hatinya memancarkan sebuah ketegaran. walaupun hanya sebagai seorang istri penambal ban sepeda, wanita paruh baya itu tidak pernah mengeluh. istri yang sangat melindungi 4 orang anaknya, anak yang lucu lucu bagi ibunya.

setiap pagi tumini berjalan ke arah matahari yg mulai meninggi. pagi itu, dengan segala semangat digendongnya putra bungsunya di balik kain jarit di punggungnya ke pasar, membantu berjualan nasi pecel adik iparnya. yah, hanya sekedar bantu bantu tapi tiap remah dan nasi sisa berjualan iparnya masih cukup untuk sekedar menambal kebutuhan keluarganya. begitulah rutinitas tumini tiap pagi, entah apa yang selalu jadi tujuan nya …

suatu sore, suaminya pergi. mencari ilmu kebatinan katanya, meninggalkannya dan ke empat anak anak nya. hanya mennyisakan sebuah rumah kayu kecil di ujung jalan dekat pos ronda yang gaduh kala malam. tumini menangis? tidak, tiada pernah kata sesal baginya untuk orang yang tiada pernah bisa melindungi dirinya dan anak anak nya seperti itu. doa dalam hati kecilnya, “Tuhan berikan hamba hati yang tabah sebagaimana engkau berikan kepada orang orang seperti kami sebelumnya.” dibimbingnya anak anaknya satu persatu, di tidurkan mereka sambil menimang nimang anak bungsunya.

namun akhir tahun itu, penyakit pes mewabah. satu persatu warga terjangkit dan mengalir ke rumah sakit bak gerombolan air bah yang datang tiba tiba. beberapa warga telah manjadi korban kumpulan tikus yang mulai datang entah dari mana asalnya. setiap malam tak hentinya dia berdoa supaya dilindungi semua keluarganya, anak anaknya, cahaya hidupnya. dipeluknya si bungsu erat erat, seakan mencoba melindungi dia dari semua sakit dah wabah. namun kehendak berkata lain…

di pagi buta, tumini menangis sejadi jadinya. ketiga putra tertuanya tergolek lemas di tempat tidur. badan mereka lemas, panas, dan… beberapa warga segera bergerombol di rumahnya, menyaksikan kedukaan itu. si bungsu memeluk ibunya,

“mak, mak jangan menangis,” ujarnya.

tumini hanya diam. beberapa hari setelah pemakaman yang sebegitu sederhana, tumini sering terdiam. tidak pernah lagi dia manampakkan diri di sekitar tetangganya hanya untuk sekedar beruluk salam seperti keramahannya selama ini. kala pagi buta dia berangkat dengan si bungsu dan sorenya kembali lagi sambil menenteng se kantong plastik makanan, yang dulu dia selalu bawakan untuk keempat anak anaknya, suaminya bahkan tetangganya jika dagangan iparnya tiada habis terjual.

tiap pagi, tiap sore sore setelah malam malam itu, hal itu masih dilakukannya. pergi dan pulang dengan baju yang sama, makin lusuh makin kurus dan kain gendongannya selalu nampak dikerubungi lalat. tapi sore itu, dia pulang sendiri, kain gendongannya telah terlepas, kemana si bungsu. wajahnya, wajah terakhir yang aku lihat, masih berusaha tersenyum. si hitam legam yang tak lagi nampak seringai senyum dan semampai tegar tubuhnya.

pagi besoknya dia berangkat pagi pagi sekali dan tiada pernah kembali ….

gambar didapat dari http://ubaiarab.files.wordpress.com/

tempat aku biasa bersembunyi

December 3, 2009 - 3 Responses

ilustrated

hari itu, kantor ramai sekali, setiap orang membicarakan yang selama ini mereka tunggu-tunggu. IPK disebut juga bonus, udah biasa dengar, tapi paling hanya numpang lewat di buku tabungan. hanya relatifitas bahwa dia ada tahun ini. semua wajah tampak hingar bingar. kata pak A, wah bisa buat beli ini tanpa bilang bu A. menurut Ibu C, asyik bisa buat liburan akhir tahun dengan keluarga. mereka bersuka cita, tawa canda berandai-andai. aku ikut, kutampakkan mimik muka senang, tertawa dan berandai-andai. hanya mimik muka ceria.

saat siang hari rabu yang panas ini, gereja depan kantor menjadi tempat kaum papa mengantri sedikit rizki dari dewan gereja. berpuluh-puluh dengan peluh wajah-wajah tua mengantri di jalan hanya untuk selembar puluhan ribu. ada anak kecil menjerit-jerit kepanasan, tak sedikit yang mengantri sambil menerka jam berapa pagar dibuka. panas, lelah, haus, sedih. saat ak duduk disamping mereka di tukang buah, kutampilkan raut wajah berduka, lelah, capek dan berpeluh.kali ini hanya raut wajah duka.

ketika matahari beranjak sore, saatnya jejalanan dijejali puluhan sumpah serapah menyebut kemacetan. klakson  berdesing diantara deru-deru kuda besi dan laju kendaraan. tak berapa lama di depan tampak dua pengendara beradu kesaktian. oknum 1 dengan ilmu menghardik tingkat tinggi dengan segala cara mencari kesalahan dari pengendara satunya. oknum 2 yang merasa bersalah hanya bisa tertunduk lesu sambil sesekali menangkis pukulan kata2 lawan mainnya. jalanan pun makin macet karena ulah mereka, dengarlah!!! sekalian bunyi klakson mendesing mengkutuk tindakan mereka. marah, panas, bosan, kami rindu rumah bicaranya. dari balik helm kuriuhkan dengan serapah, makian dan cercaan. selesaikah ? kali itu hanya suara riuh.

dan ketika malam mulai mendatangi saat sampaiku . segala ceria, duka, marah semua hilang. berganti kebekuan yang teramat dalam. dalam diam dan ketidak pedulian akan sekitar. aku sudah teracuni oleh cara pandangnya tentang keadaan. dan aku berubah. disitu, di petak ukuran 2,5 kali 3 . tempat aku biasa bersembunyi dan menampilkan perasaanku sebenarnya…

buku

December 1, 2009 - One Response

ilustrated

namaku alya. aku mahasiswi di sebuah universitas ternama di jakarta. aku seorang wanita yang mulai beranjak dewasa. tahun ini aku akan menyelesaikan kuliah semester terakhir. semester dimana aku harus membuat sebuah laporan ilmiah.

hari ini saat aku bangun tadi pagi aku termenung cukup lama. apakah bahasan yang akan saya bawa kepada dosen pembimbing nantinya. setelah berfikir beberapa lama ada suatu gambaran yang nantinya akan aku paparkan mungkin ke depannya, bagaimana aku akan menyusun laporan ilmiah ini. aku akan mengulas tentang hobi yang aku gemari dan beruntungnya hobiku ini berkait dengan mata kuliah yang aku ambil dan beruntungnya aku suka sekali membaca, berbagai tempat yang menyediakan bacaan bacaan menarik telah aku kunjungi.

oh iya aku jadi ingat sebuah buku. buku tentang masalah orang orang dewasa. buku itu diterbitkan hanya satu buah saja tiap tahunnya. maklum lah penerbitnya orang kenamaan. aku tahu buku itu dari seorang teman dan aku meminjamnya tahun lalu. aku sangat menyukai buku itu, maka kucari cari di banyak toko buku langgananku dan akhirnya aku melihat nya di toko buku terakhir yang aku tahu dan itupun buku terakhir yang tersisa saat itu. aku hampir saja membeli buku itu tahun sebelumnya tapi karena suatu alasan yang sangat harus kuterima, dan buku itu harus dibayar dengan mata uang tertentu sedang waktu itu aku belum punya maka kubiarkan buku itu dibawa orang lain.

akhirnya dengan sedikit kesabaran dan tanpa menghiraukan buku buku lain yang menurut beberapa temanku sangat lebih menarik, tapi bagiku enggak sama sekali. tahun ini buku itu terbit kembali. dan kejadian yang sama terulang kembali. ketika aku berusaha menggapai buku terkakhir yang dipajang di etalase toko itu, tangan lain mengambilnya. ah, karena aku sudah terlalu lama menantinya maka kuberanikan memandang buku yang dibawa orang lain itu. sesampainya di dekat kasir orang itu bertanya kepadaku

“mbak ingin buku ini?”ujarnya
“tapi buku ini ingin bersama saya mbak.”sahutnya lagi

aku hanya diam. dalam benakku ternyata buku itu mempunyai perasaan. buku itu ingin bersama nya. tapi dulu aku ingat buku itu juga ingin bersamaku, menemani mataku. sekarang aku jadi bingung, apakah aku harus tetap memaksakan keinginanku membeli buku itu walau kukesampingkan kenyataan bahwa aku belum mempunyai mata uang tertentu itu dan belum tentu kasir mau memberikan buku itu padaku .tapi setelah lebih setahun menunggu buku itu ternyata berusaha suka dengan orang itu walau mungkin buku itu sedikit menanti kedatanganku.

aku bingung, apakah harus kembali mempertahankan perasaan suka ini atau akan menutup perasaan ini walau aku sungguh sungguh suka buku itu karena sekarang aku tahu buku itu sekali lagi suka dan ingin bersama orang lain seperti tahun lalu. aku bingung karena aku takut salah menjaga perasaan ini buat sebuah buku yang sungguh sangat saya inginkan itu.andai buku itu namanya cinta, apa aku telah benar benar buta? tapi mengapa aku selalu ingin buku itu.

namaku alya dan aku sedang menyusun laporan ilmiah agar aku lulus semester terakhir ini nantinya…

november

November 26, 2009 - One Response

aku bisa melihat mendengar dan membaca keadaan, jalan fikir dan apa yang mungkin terjadi karena pengalaman dan masa lalu yang penuh kerahasiaan.aku gak akan protes, aku akan diam dan melihat apa yang sudah dan mungkin akan terjadi. aku dah taw sifat watak … aku dah banyak belajar menghadapi. hati2 dan cobalah hargai… baik buruk, susah senang walau aku tahu banyak susah nya akhir2 ini… silahkan lakukan apa aja, dan aku akan melihat membaca nya… kata2mu akhir2 ini banyak sekali …..ku dan caramu menampakkan tanda2 seperti 3 tahun lalu …

Waktu dulu

October 1, 2009 - 4 Responses

ilustrated

Waktu dulu itu aku masih sekolah dasar. udara dan lingkungan tidak sepengap dan semeriah kota besar ini. di sudut kota kecil itu aku menunai beberapa pelajaran, sejuknya angin dan meriah nya derik jangkrik kala malam. aku pria kecil hanya punya sebuah semangat dan tekat kelak aku akan menjadi insinyur teknik seperti habibie.

sejak awal catur wulan tiba, kala itu adalah masa masa susah bagi keluarga kecil kami. Bapak hanya seorang guru . sebagai seorang sulung dalam hatiku aku ingin membantu mereka dan melindungi adik adik ku. pagi itu kami diantar bapak ke sekolah, sejuk embun pagi masih menempel di dedaunan. setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh bagi ku akhirnya kami sampai di sekolah dasar negeri kutorejo. Lumayan jauh tapi bagi bapak dapat memberikan bekal yang berguna bagi masa depan kami. walaupun jaraknya berkilo kilo dari rumah kami, dan bukan sekolah dasar di dekat rumah.

kulangkahkan kaki kuyu ini ke dalam kelas, aku terlambat. gemerisik bisikan teman teman dan cekikikan teman sebangku berlalu saja di kepala ku.
“selamat pagi.”sapa bu suci yang kuacuhkan saja
dalam hati tiba tiba aku menggerutu
“kenapa mesti disini, disini kan jauh pak.”
hati kecil yang membutuhkan penjelasan mengapa berkilo kilo aku harus pergi sementara teman teman sepermainan ku bersekolah di samping rumah.
“selamat pagi *****.”ulang bu suci
“selamat pagi bu.”ulang ku lemah
aku tidak mengacuhkan pelajaran, penjelasan panjang lebar tentang pemuaian tidak semenarik pembagian kemarin.aku memandang bu guru penuh harap seakan aku memandang ibu, bulan depan naikkan uang saku ku ya bu jangan dipotong buat naik angkutan kalau pulang sekolah. aku mau kok sekolah di dekat rumah.

bel istirahat berbunyi tepat pukul 9.30pagi, kuhamburkan keluar kelas diri bagai seekor kuda yang melesat dari palang pacuan. satu satunya tempat yang kutuju adalah kantin. beberapa receh kukeluarkan dari saku. satu dua tiga receh itu beralih dari tanganku. aku tertawa bersama teman ku anak seorang dokter spesialis penyakit dalam.”*****, mengko nang omah ku piye, aku nduwe dolanan anyar.wingi ditukokne bapak nang suroboyo.”
aku mengangguk tanda tidak, karena setiap aku pulang, aku harus menunggu adik ku dan kami akan pulang bersama sama ke sudut kota yang lain.

Lonceng tanda pulang sekolah dibunyikan pukul 12.00 siang. siang itu aku lebih dulu keluar kelas dari adik ku. sambil duduk kutunggu di gerbang sekolah sampai dia datang.
“mas, pulang yuk ***** dah lapar.” ujarnya
kuacuhkan dan kutinggalkan adikku agak di belakang,
“barangkali ibu ga membiarkan aku sekolah di deket rumah biar aku tidak bisa bermain bersama anak anak kalau pulang sekolah,” gerutuku.
sesampai di pangkalan angkutan kota, kurogoh saku celana merah. kuulang hal serupa di saku baju putih. tidak terdengar suara gemerincing receh. uang kami telah habis, ibu…

rumah ku berjarak setengah jam kalau naik angkutan atau satu jam berjalan kaki dari sekolah dan setelah itu harus ditempuh jalan kaki sepuluh menit dari jalan raya. aku harus bagaimana, apakah adikku kuat. Aku menitikkan air mata.andai aku sekolah di deket rumah.
“dik, uang mas habis tadi buat bayar bulan dana PMI.”aku berbohong
adikku mengangguk, “terus bagaimana kita mas, jalan kaki aj yuk.”kata adikku
kasihan adikku dia masih kecil waktu itu. usianya terpaut dua tahun dibawahku. aku duduk di kelas empat dan dia duduk di kelas dua.

kubawakan tas adikku, kami berdua berjalan kecil mencari jalan tercepat menuju rumah. sesekali kami bergurau.
“mas, nggak lapar?”kata adikku.
aku mengangguk, sebentar lagi kita tiba di rumah ujar ku.
melewati bantaran sungai brantas, menyeberang jembatan tua peninggalan belanda, dan berjalan menyusur jalan raya propinsi sampai kira kira kurang seperempat perjalanan.

dari jauh kulihat ibu. mengayuh sepeda ke arah kami. tahun itu hanya sepeda motor satu satunya dipakai bapak untuk mengajar di sekolah. sedang ibu setiap hari nya memakai sepeda itu di rumah. aku sadar bulan itu masa masa sulit, ibu menyusul kami karena kami sudah terlambat satu jam dari jam biasanya kami pulang. Dari warna wajahnya aku tahu beliau khawatir. Ibu tidak naik angkutan… siang itu siang yang panas. ibu maafin aku…

sudah dua belas tahun lebih masa itu berselang .sekarang aku telah mendapat pekerjaan yang layak walau kadang aku belum puas dan terasa melenceng dari cita cita ku semasa kecil. dan aku mengerti mengapa bapak memilih sekolah itu . ketika aku merasa kesepian dan jauh dari rumah sekarang. aku sadar bahwa beberapa orang telah membuat keputusan yang sangat berguna untuk ku dan mungkin masa depan ku. untuk kesalahan ku masa itu, maafkan aku ibu “Tuhan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku selagi aku masih kecil”doa yang selalu kupanjatkan untuk bapak dan ibu ku…

cerpen yang kutulis di pertengahan tahun 2006 dan pernah ak posting di intranet, hari ini ak ingat skali sama ibu mungkin gara2 habis pulang kampung lebaran lalu. Ibu pet sembuh y…

pict taken from http://endjivanhouten.files.wordpress.com

jakarta

September 28, 2009 - 2 Responses

JAKARTA

JAKARTA memang kejam, jakarta memang jahat, jakarta sangat bengis, jakarta juga rakus, jakarta pula yang memaksa orang berubah. jakarta membuat orang saling bunuh, merampok harta orang yang bukan haknya. jakarta tak peduli anak2 kecil berlarian di tengah panas hanya untuk gopekan, orang tuaberrinai-rinai dibawah hujan hanya untuk selembar ribuan. jakarta dengan senangnya menginjak-injak lapak-lapak kaki lima yang terlalu melebar ke jalan. jakarta membuat orang memakan rizki orang-orang yang harusnya disampaikan. jakarta pula yang membuat pak kiyai menjadi dukun, iya dia JAKARTA yang penuh kebusukan dan kenestapaan.

namun, di jakarta kita memulai harapan. di jakarta kita meretas setinggi-tingginya asa. di jakarta kita mencari pendidikan. di jakarta kita mendapat penghidupan. di jakarta kita jadi disanjung kala pulang. di jakarta pula banyak orang menemukan belahan hatinya merintis keluarganya…

dan aku berharap seperti banyak orang berharap di jakarta, jadikan aku manusia sebaik-baiknya….

pict taken from http://brownbeaver.files.wordpress.com

5 tahun Lebih ?

September 8, 2009 - 7 Responses

suatu waktu di cisarua, on this video my two best friend…

5 tahun lebih sejak penempatan. akhir maret 2004 sd sekargan september 2009, dan masih di bagian yg sama. malah bisa dibilang kursi yang sama. tp pernahkan aku merasa jenuh? kadang sesekali terasa, cuma akhir2 ini kenapa ak jadi ngrasa betah disini.

kemaren sore agak terkaget ketika temenku bilang ada mutasi, mungkin nanti jika kanwilku ada mutasi, kemungkinan kaw bisa dipndah bro. ah, tiba2 ak jadi berat banget ninggalin tempat ini. mungkin sudah terlalu lama hingga trasa baru kemarin. atau mungkin selama ini ak menemukan environment yg bagus disini yang membuatku betah. walau di kantor ini juga belum pernah sama sekali dipindah, Alhamdulillah slama ini masih dipercaya untuk megang pekerjaan ini. kursi yang sama, aroma yang sama tiap pagi di ruangan ini. orang2 yg dulu berganti pergi, teman2 terbaik yang dipindah ke kantor lain. teman2 baru datang.

jadi teringat dl di kantor ini aku punya 2 sahabat baik, namanya jelek dan kepala suku, maaf nama disamarkan. dua2nya cewek, hampir di tiap pagi dan siang hari sering kali kami makan bersama, bahkan beberapa masa sering bgt keluar kantor menemani mereka sekedar berbelanja ke mangga dua, pasar pagi atau tanah abang. setiap ada kesulitan baik pekerjaan ataw sekitar kami saling bantu membantu, dan bahkan hampir bisa dibilang kami bertiga seperti saudara. tp ketika masa itu pratama, mereka berdua dipindah ke kantor lain. hahahha, hampir menitikkan air mata kala itu, rasanya seperti akan ditinggal jauh, but its ok. ada yg datang adapula yang pergi.

kembali ke 5 tahun tadi. sekarang, apakah pencapaian selama aku berada di kantor ini, adakah prestasi yg sudah aku ukir disini, atau hanya bekas2 coret2 yang gak tentu disini. harusnya ada, dan aku sedang berusaha . semoga nantinay saat ak harus juga pindah dari tempat ini, aku bisa meninggalkan sebekas kenangan baik buat kawan-kawan disini …