seperti lirik lagu yang sering kugunakan untuk menggodanya kalau karaoke. lagu yang dibawakan imam s arifin, pada reff ny “ismawati” yang kurubah dengan nama belakangnya. itulah perasaanku sekarang. tidak pernah kuduga akan berakhir lagi seperti ini. ak terlalu memegang komitmen ini dari awal, berharap akulah yang dipilihnya untuk menemaninya sampai tua. menjadi pelabuhan terakhir hatinya, menemani ku di rumah kecil pinggir jakarta yang kita pilih bersama itu, membesarkan anak-anak kita. tapi semua hanya impian yang sudah rusak sekarang. rumah yang sudah berusaha kubuat layak sekarang, walau belum sempat membuat taman dan pagar yang layak agak mobil bisa lebih mudah masuk seperti pintamu. aku ingat sekali, “kamu tinggal disisi sebelah kiri, dan aku di sebelah kanan yang ada pintunya, jadi kalau mau lewat harus bayar ke aku” ucapmu bercanda waktu itu. mungkin itu pertanda?
Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang berat untuk hambaNya, namun kenapa harus sekali ini lagi. Bukankah Dia tahu, bagaimana saat-saat beratku dahulu saat dia pergi. Harusnya aku sadar, saat dirinya mulai berpaling. saat mulai mempercayai aku bukanlah tujuannya, menghindari komitmen ini lagi. Kalau dahulu, aku masih bisa berusaha menerima, karena dari awal dan diujung masa itu aku belum bisa memenuhi tuntutannya dan aku rela mengalah untuk orang yang sama denganmu. Namun, setelah dia kembali dan komitmen itu, maka kuyakini dan kuusahakan segalanya untuknya, menjadikan itu nafas dan semangat hidupku selama ini. karena aku tiada ingin mengecewakannya dan karena aku inginkan dia menemaniku. Walau kita berbeda, tidakkah cukup selama ini untuk kamu tahu keadaan ini sudah cukup membahagiakanku, karena dari awal aku menerimamu seperti kamu yang tidak bisa seperti aku, walau komitmen di awal kamu harus sama denganku, tidakkah kamu mengerti bahwa selama ini aku bahagia dengan seperti ini, di dekatmu.
walau ucapku masih memperjuangkan komitmen dan janjimu, tidakkah kamu bisa lihat di wajahku bahwa aku selalu di dekatmu, memandangimu dalam dalam seperti memandang sebelah rusukku hingga sesaat sebelum kita berpisah di bandara kemarin.menjaga dan menginginkanmu harapanku. salahku, aku tidak bisa membaca tanda bahwa kamu inginkan orang yang sama denganmu, seperti saat ini. ada dia yang berusaha masuk pelan-pelan dan aku bisa membaca gerak-geriknya, sehingga semua menjadi meruncing, saat aku butuh waktu untuk memutuskan memakan buah simalakama itu. salahku, aku membuang terlalu lama waktumu walau waktuku yang selalu lebih lama terbuang untukmu. salahku, tidak bisa membaca tanda-tanda aku bukanlah tujuan hidupmu.
dulu ketika ibu akan pergi februari 2010, beberapa bulan sebelumnya, setelah lebaran 2009, beberapa kali kelopak mata kiri bawah kedutan. aku cari di internet, apa artinya. ternyata aku akan bersedih dalam waktu-waktu dekat itu. dan ternyata benar, aku kehilangan ibuku, yang tiada bisa aku lepaskan dari sakit yang dideranya “maafkan aku bu”. wanita yang baru akan mulai merasa bahagia saat anak-anaknya sudah tumbuh besar, menempati rumah yang layak metamorfosa dari gubuk awal mulai keluarga kami tempati, mencuci dengan mesin, mencuci piring tidak di ember lagi, sehingga beliau tidak perlu bercapek-capek seperti saat merawat kami saat kecil. saat aku mulai bisa memanjakannya, memperbaiki rumah dari hasil jerih payahku disini, membelikannya perhiasan, hingga menyaksikan adikku menikah. namun sayang ketika kebahagiaan beliau mulai terwujud, dan belum sempat menyaksikan cucu ny lahir dari rahim adik iparku, beliau pergi. dengan semua usaha keras kami, dengan semangat besar ibu untuk sembuh, bahkan aku masih ingat kutip ucap ibuku ke bude sri malam sesaat beliau koma “yu, aku kudu waras yo yu / kak, aku harus sembuh ya kak”, namun diawal dia akan mulai bahagia di hidup susahnya sedari kecil, dia pergi. secara kebetulan kedutan tersebut benar.
dan beberapa saat kemarin, kelopak kanan bawahku yang kedutan. beberapa hari di waktu-waktu yang berbeda. aku cari artinya, arti yang sama. dan sekarang saatnya. kadang aku ingin, orang lain berfikir dengan menempatkan dirinya diposisiku, berusaha merasakan dan berfikir bagaimana aku jika dia melakukan suatu tindakan. bukan hanya kehendaknya sendiri. karena selama ini aku berusaha seperti itu baik untuk dirinya ataupun orang lain. selama menjaga komitmen ini, banyak bunga lain yang datang padaku saat mereka gundah. tapi ndak, syukurku slama ini masih bisa menempatkan posisiku di orang lain. salah satunya Nxx, cantik dan jauh lebih cantik dimata orang normal, bukan dimata orang yang sedang gila ke dia seperti aku, sama denganku tidak sepertinya yang berbeda. sedang bermasalah dengan pasangannya, dan kemudian berusaha masuk ke diriku karena menemukan nyaman denganku. namun syukurku, aku masih bisa menjaga hatiku selalu untukmu, menjaga hati dan perasaan pasangannya yang sedang bermasalah, aku tertarik memang, namun karena aku sedang berkomitmen lalu haruskah aku membuangmu yang belum jelas jluntrungannya denganku lalu mengambil kesempatan dengannya, menyingkirkan pasangannya. tidak, sama sekali tidak, justru selama bunga bunga lain itu datang, hal seperti itulah dan akan selalu seperti itulah yang aku jaga. karena aku nggak ingin, suatu saat nanti ada yang melakukan hal itu kepadaku. Karena Aku juga tahu selama ini juga banyak yang kamu singkirkan yang mendekatimu, walau ada satu …
sekarang, coba rasakan. bagaimana perasaan ku. walau menurutmu kamu melakukan ini agar nantinya aku ada yang menemani saat sahur berpuasa dan lainnya, bukan untuk agar dirimu mempunyai orang yang bisa melakukan hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan, namun tidakkah selama ini bisa kamu lihat hal seperti sekarang saja sudah sangat cukup untukku, lalu dimana komitmen itu. aku tahu benar sifatmu, dan aku mengerti itu, aku bisa menerima itu, sebagaimana engkau mengerti sifatku yang suka mengasihani diriku sendiri, karena jika bukan aku yang mengasihani diriku sendiri lalu siapakah yang perduli. sekarang, bukan seperti ini yang aku harapkan. tidak akan sesakit ini, jika bukan dia yang memperuncing masalah ini orang yang bisa kuendus langkahnya beberapa waktu sebelumnya. tidak akan semenderita ini, jika kata udah benar-benar kita sepakati berdua bukan dari sisimu saja, karena sampai saat ke bandara kemarin bagiku semua masih nampak wajar-wajar saja. aku hanya berangan, tidakkah kamu berusaha menanyakan padaku saat kamu menerimanya, dia yang memang sama sepertimu dan bermasa depan lebih baik, karena saat itu kamu masihlah tujuanku walau ternyata bertolak belakang dengan yang ada di pikiranmu. sekarang, semuanya hancur, dan coba rasakan hal yang tidak akan kamu rasakan ini karena kamu di pijakan yang lain dalam posisi sedang berbahagia …