Enter title here

Posted: September 19, 2011 in Uncategorized

hilanglah semua, tiada lagi yang bisa kupetakan dan kuyakin karena memang dirimu sekarang sangat berbeda dan warnanya terlalu berlainan. walau terkadang berbisik terlalu pelan hati ini, namun mengingat semua yang sudah terjadi, semua sakit, pedih, luka, atau aku atau semua. hingga semua sekat dan batas terlalu jauh untuk dilampaui, dan bahkan corat coret disini pun terlalu susah dihapus sekarang. tak akan aku bertanya lagi dimana itu janji, ikrar atau tautan, karena hanya benci yang kuingat sekarang.

sebuah tujuan yang sudah pasti kemana. tentu ke depan ke tempat yang jauh dan penuh belokan dan jalan yang janggal, kadang gelap. tapi lihatkah dulu, selalu kubawakan kompas di saku, yang aku sembunyikan dibalik rusukku, kutuntun engkau kala jatuh, kaupun memberikanku pegangan yang kuat kala aku tersesat, dan kita berjalan menjaga lentera kita supaya tidak padam, dan di suatu belokan, hanya kesia-siaan.

di keningmu hanya suram sekarang yang kubingkaikan, aku menyesal jalan dan cara seperti ini yang kamu pilih, walau terkadang, setiap rinai hujan selalu membiaskan cantikmu, menghidupkan wangimu yang sudah pasti akan pudar suatu waktu dan kutahu dalam tawamu sekarang pasti masih tergurat ketakutanku, bahwa aku pernah menjadi hidupmu seperti saat terbaringku di lorong sempit itu. tapi sekarang kamu tahu? aku tidak takut bahwa aku hanyalah sebait kata atau mungkin berbait bait kata tapi tiada terbaca lagi, karena bagiku dewi hujan itu hanya sebuah kisah yang berakhir suram. seperti musim semi yang pasti berlalu.

jika teringat, sebenarnya aku merasa malu mengemis begitu banyak keinginan, datang dengan mata yang sembab, bibir yang kelu bahkan perilaku yang mulai janggal hanya untuk mendapatkan perhatianmu dulu? dan aku sadar, sejauh apa aku berlari dari rasa duka dan kasihan ternyata dirimu disitu waktu itu, hingga kutengadahkan tanganku padaMu disetiap malam itu, hanya malu dan kesia-siaan yang kudapatkan.

tentang awal dan akhir, walau terlalu banyak malam yang mengingatkan aku dengan saat bahagia itu namun pasti terhapus oleh ratusan malam malam yang sepi yang kaubangun tanpa tersadari, hingga berujung kegagalan ini, bahkan sekarangpun aku enggan membaca tulisan tulisan ku sendiri yang memuakkan tentang tembang tembang kerinduan dan kala yang ku gigit dalam usaha memekikkan dewi hujan yang kurindukan tiap malam ….

“kamu kekasih ? ….”
wajahmu hanya diam dalam onggokan kardus usang, dialah fotomu. berlalu beriring suara-suara yang sudah mulai hilang. lalu dendang lagu tidurmu kala malam , tiada lagi kubayangkan …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s