kesaksian bohlam tua

Posted: October 6, 2011 in Uncategorized

rona sore yang sama kulihat, tampak siluet matahari sore diantara tirai coklat usang di kolom ruangan itu. jejeran rak tampak rapi memanjang membentuk labirin dengan deret-deret abjad judul buku yang menyembul di masing-masing sisinya. bahkan, orang yang belum pernah kesitu pun pasti akan tersesat di ujung lorong rak-rak buku itu, sempit dan miskin cahaya, apalagi menjelang petang seperti sore yang sama ini. di ujung pintu, bersembunyi diantara tumpukan buku tua yang belum sempat dikembalikan ke raknya, atau bahkan tidak ingin dikembalikannya untuk menutupi mejanya dari pandangan orang yang mungkin melihatnya di ruangan itu atau sekedar berolok bahwa banyak yang membaca dan meminjam buku di pustaka itu, seorang wanita berkacamata tebal sedang berkutat dengan solitaire dan chat room yang tersedia di layar cembung itu.

ketika malam mulai beranjak naik, sambil bermalas, disangkutnya saklar lampu disamping meja sekenanya. seketika lampu pada tiap-tiap ujung ruangan dan sebuah lampu besar di tengah menyala redup dan perlahan benderang. diperhatikannya tiap-tiap sudut ruangan itu, hingga pada satu titik dia terperangah.

“huh, dia lagi”, gerutunya dalam hati mungkin, ketika disadarinya tampak di sudut ruangan ada seorang pembaca yang sibuk dengan bukunya.

pemuda kurus di ujung rak itu, setengah “terbelakang” mentalnya, aku tahu, menurut penjaga sebelumnya yang sudah dua tahun sebelum dia,yang berkata kepada wanita itu. wanita yang menggantikan penjaga sebelumnya hingga sekarang tahun ke empatnya menjaga pustaka itu,dia pemuda idiot selalu belajar mengeja dengan buku yang sama di ujung rak itu. dari setiap jam buka hingga pustaka itu tutup, tapi entah, apa pemuda itu terlalu idiot atau memang hal lain yang menyebabkan pemuda itu selalu disitu.

“ah apa urusanku dengannya”, gumamnya lagi mungkin sembari meneruskan obrolan mayanya.

tak lama, pekik adzan isya berkumandang lirih menembus pintu kaca yang sengaja sedikit dibuka untuk menandakan pustaka itu buka. dari atas langit-langit dapat kulihat, dialihkannya pandangan ke ujung rak, dan masih tampak pemuda kurus itu tergagap-gagap, seperti berusaha mengeja kata atau bahkan huruf yang sukar dibacanya atau entahlah, sukar diingatnya, atau bahkan memang dia terlalu bodoh untuk sekedar bisa membaca. lalu selama ini sedang apa dia. tampak pikiran wanita itu berkecamuk…

“bodoh apa?”, mungkin fikirnya, dan tampak sambil pelan-pelan beranjak dari kursi malasnya itu.

seketika dia berjalan pelan menuju arah rak itu, hingga pemuda tadi tiada menyadari kehadirannya. sembari melongok dari punggung pemuda itu, diintipnya apa yang sedang dibacanya. ternyata dia hanya memegangi buku berwarna hitam bertuliskan beberapa huruf berwarna merah muda atau mungkin merah darah di sampul kelamnya. terlihat seperti berusaha membaca judul buku itu, namun dengan terbata-bata dan berusaha mengingat-ingat itu huruf apa.

“I …..E YOU” ah sial, tiga huruf di depan huruf e pada judul sampul buku itu tertutup lengan pemuda idiot tadi” gerutu wanita tadi dalam hati mungkin.

ketika pemuda tadi menyadari ada seseorang di belakangnya, dia berbalik dan diulaskannya senyum kecil kepada penjaga pustaka.

“aih, knp tersenyum lo!!!”, terdengar hardik wanita itu sembari bergegas berlalu pergi kembali ke mejanya ketika pemuda tadi menyadari kehadirannya sambil menyesali kebodohannya pergi ke ujung rak itu.

namun sejurus kemudian, seringai senyum merona dibalik wajah wanita itu kudapati dari atas sini, ketika dari balik layar cembungnya didapati sebaris ajakan makan malam dari pujaan hati yang beberapa waktu mendekatinya dan juga menawarkan pekerjaan baru baginya. sambil membayangkan hangatnya suasana restoran favoritnya, diseling iring-iringan musik sambil menikmati santap malamnya, sesegera dia bergegas, mengemasi barang-barangnya dan mencabut paksa colokan listrik mesin berlayar cembung itu, dan mematikan lampu ruangan pustaka itu. seketika menjadi gelap, dan wanita itu bergegas keluar dari ruangan itu . meninggalkan kunci ruang pustaka tergeletak disamping meja, dan mematikan semangat pemuda idiot itu untuk belajar membaca, atau entah pemuda itu benar-benar berniat belajar membaca dan mengeja kalimat I LOVE YOU atau I HATE YOU yang dari langit-langit ini terlalu samar terlihat, atau hanya berpura membaca untuk menemani wanita tadi menjaga perpustakaan yang selalu sepi itu. atau entahlah, toh tiada orang lain yang ingin tahu .

aku, sebuah bohlam tua dan pecah di ujung langit-langit pustaka itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s