tampak dari balik tirai coklat yang sama semusim gugur kemudian, daun-daun pohon trembesi mulai berguguran, menorehkan warna emas tua di tepi jalan. samar-samar cahaya menembus sarang laba-laba yang mulai bertumbuhan dipojokan ruangan. waktu serasa berhenti beberapa lama semasa udara pengap yang mengawang diatas rak rak lusuh untuk saat-saat itu dan jarum jam masih saja menunjuk angka tiga sebelum kematiannya 2 jam lalu, atau kemarin, atau kapan lalu, ingatku 2 jam sebelum jam itu mati aku masih bisa melihat jarumnya di angka 1.
namun pagi itu terasa lain, musim gugur memang, tapi serasa ada jiwa baru untuk pustaka ini. dan benar saja, tak berapa lama pintu berderit dan terbuka. samar samar nampak sesosok baru memasuki ruangan, masih terlalu pagi atau memang kaca pecah ini terlalu susah untuk melihat seisi ruangan ini lagi.
sambil melihat ke seluruh penjuru ruangan, di rapikannya tumpukan buku usang di meja dengan benda berlayar cembung di dekat pintu itu. ketika didapatinya kunci ruang masih tergeletak di meja, dipungut dan disimpannya kedalam tas kerjanya. tampak aroma lain menyeruak mengisi segenap udara di ruangan itu ketika tampak tulisan “librarian” di name tag yang dikenakannya. foto cantik yang terpampang pada name tag itu menandakan sosok itu seorang wanita, menggantikan wanita yang sebelumnya.
dan waktupun berhenti, lelah sekali kaca bohlam tua ini.
———————————————————————————–
“kotor sekali ruangan ini” gumamku sambil membersihkan debu yang ikut menempel di kerah.
akupun beranjak meraih sapu dan dan kemoceng yang teronggok di belakang meja tunggu ini, meja kerja baruku. kususur lorong-lorong sempit itu dengan sapu sembari merapikan tatanan buku. dan seketika hilanglah semua debu dan kotor di penjuru pustaka itu.
———————————————————————————–
dan pintu ruangan berderit ketika ditutup. aku terbangun. kudapati bayang wanita itu menjauh meninggalkan pustaka ini dan perlahan hilang ditelan barisan pohon trembesi dipinggir jalan. saat kualihkan pandangan kebawah. barisan rak nampak rapi dan bersih, kilatan cahaya sesekali dipantulkan dari lantai yang tampak sudah mengkilap. tirai coklat bergoyang kegirangan ketika udara menembus kaca yang lama sekali baru terbuka. dan tak berapa lama pintu terbuka kembali. nampak dia menenteng plastik hitam entah berisi apa, kemudian diangkat dan dibawanya kursi kebawah langit-langitku sambil membuka plastik hitam tadi. kupicingkan kaca pecah ini untuk memastikannya, namun karena terlalu memaksa tiba-tiba semua warna menjadi pudar.
semburat putih mengaburkan dan menjemput sadarku sekali lagi.
———————————————————————————–
“ah, tinggi sekali letak bohlam pecah ini” pekikku sembari berusaha memutar, melepaskan lampu itu dari dudukannya. dan tak lama bohlam dengan kaca baru yang sedari tadi tersimpan di plastik hitam sudah terpasang kembali di langit yang sama, kemudian dengan agak terhuyung kuangkat kursi untuk pijakan tadi kembali ke tempatnya semula.
———————————————————————————–
tampak warna pelangi disela ujung kacaku saat terbangun, dan perlahan memudar berganti warna terang benderang secerah seharusnya. dan akupun tersenyum sendiri merasakan keajaiban ini, jiwa dan raga baruku yang sekarang terpampang di langit pustaka ini. terima kasih, dan sejuta kebahagiaanku kuucapkan untukmu. secepatnya kualihkan pandangan ke meja diujung pintu, namun tak kudapati wajah cantik itu disana.
“i …., i looooove, i lovee you” terdengar suara terbata disisi lain rak buku.
dan seketika kudapati pemuda idiot itu tengah melafalkan kalimat judul buku itu, barulah aku tersadar, seselama ini dia bersama kami menunggui wanita itu datang. dan baru sekali ini tampak wajahnya olehku, rupawan dan sederhana, ah sayang dia agak “terbelakang”.
“i love you”, kali ini lantang dan penuh semangat tanpa terbata ujar pemuda tadi.
oh, dibaliknya tampak wanita itu disana, sedari tadi mengajarinya membaca judul buku hitam itu yang bertahun dicoba dibacanya. tampak rona bahagia padanya, sembari bergumam “terima kasih” mewakili kegembiraannya dan mewakili terima kasih kami semua. diulaskan senyum, senyum yang diacuhkan penjaga sebelumnya, kemudian beruluk salam takzim dan bergegas menuju keluar ruang pustaka ini, untuk mencoba semua hal-hal baru di musim gugur dan musim musim lainnya nanti di luar sana. hari-hari yang sudah pasti cerah, tanpa suram dan gelap lalu.
sekarang dari sini dapat kucium wangi aroma lemon musim gugur yang ditebarkan pada udara ruang ini, dan cahaya menerobos memasuki sela sela buku di tiap rak yang berlabirin-labirin, menjadikannya petunjuk untuk membaca tiap huruf yang menyembul di masing-masing kolom. gema suara pemuda idiot tadi, “i love you” seakan abadi bergaung hingga bisa memaksa jarum jam yang mati menjadi berdetak kembali. namun hal yang seakan menjadi permata di ruangan ini, tiada lain di ujung meja di dekat pintu, pada sesosok wanita sederhana itu, bidadari pemberi semangat pada jiwa yang mulai hampa…
carane follow blog iki piye ik?? xixixi… berkejaran terus gak pegel tah ndol? :p
ak dewe yo ra ruh nas heheheh kok enek follow2an barang