12 Februari dan 23 April

BapakIbu

jumat 12 februari 2010 dan selasa 23 April 2013

dua hari dimana aku menyaksikan ibu dan bapak ku dipanggil olehNya, dan tragisnya mereka berpulang di ruang ICU, dengan selang dan alat bantu pernafasan serta indikator2 lain di tubuhnya. Walau insyaAllah “semoga Allah melimpahkan rahmat dan magfirah nya selalu kepada kedua orang tuaku almarhum” mereka meninggal ketika sholatnya tanpa terputus sampai diambil olehnya tapi hati siapa yang tidak sedih ketika ditinggal kedua orang tuanya.

Ibu meninggal ketika usianya menginjak 48 tahun, ketika berusaha dengan keras melawan penyakit yang menyerangnya, dengan semangat untuk sembuh di salah satu rumah sakit terbaik di surabaya. Dan sedihnya, beliau belum sempat menimang cucu karena saat itu keponakanku anin masih dalam kandungan. Terbiasa hidup susah sedari beliau kecil karena ditinggal Kakekku yang meninggal akibat salah tangkap ketika pemberantasan PKI. Nama kakekku jumangin dicokok atas DPO yang bernama jumain, dan kemudian nenekku menikah lagi dan mengharuskan ibuku dirawat oleh nenek angkatku. Beberapa tahun saat sebelum ibu meninggal, adalah masa dimana beliau baru bisa sedikit merasakan kebahagiaan dari putra-putra nya yang sudah beranjak dewasa dan bekerja. Membangun dan melayakkan rumah yang sedari kecil keluarga kami tempati, menikmati sedikit dari hasil jerih payahku sendiri.

dan penghiburan, untuk meninggal ada banyak jalannya. ketika satu pintu tertutup, masih ada berjuta pintu kematian lainnya.

Tak jauh beda dengan ibu, bapak meninggal ketika usianya 63 tahun. Mengikuti usia Nabi junjungan kami, MUhammad SAW. Sifat disiplin dan keras hatinya yang membawanya rutin untuk berobat dan menjalani program dari dokter atas sakit yang menderanya. 6 bulan dari 9 bulan waktu program yang baru dijalankan, namun Allah berkehendak lain. selasa pagi itu ketika baru kubuka pintu kamar Rumah sakit tempat beliau di rawat, kusaksikan dengan mata putra nya ini tubuhnya tidak lagi kekar seperti dahulu, atau sesegar bulan september tahun kemarin ketika resepsi pernikahanku. Walau sebelum-sebelumnya doaku adalah agar supaya diangkat penyakit beliau, disehatkan dan dipanjangkan umurnya karena anak-anakku nanti pasti bangga dan ingin bertemu kakeknya yang keras ini, namun ba’da magrib itu ketika beliau koma untuk kedua kali kurubahkan doaku, kuikhlaskan beliau. Dan tak henti aku dan adik2ku serta ibu tiriku membacakan ayat2 Al Quran didekatnya, menuntunnya hingga diambil olehNYa.

Ibuku menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah aku menginjakkan kaki di ruang tempat beliau di rawat, saat Bapak, kedua adikku dan diriku berada didekatnya. Begitu pula dengan bapak, ketika adikku baru datang dari surabaya malam itu beliau berpulang, disamping anak2nya. Ditengah sedih, kami senantiasa bersyukur bahwa disaat-saat terakhir orang tua kami, kami disempatkan berada di dekat mereka.

Banyak orang berani untuk mati dan itu sudah biasa, namun orang hebat dan istimewa adalah ketika berani menghadapi dan menyelesaikan keadaan hidup yang susah. Bapak dan Ibuku sedari mereka kecil ditinggal kedua orang tuanya. Kakek dan nenek dari bapak meninggal ketika bapak masih kecil, entah apa sebabnya. Mereka terbiasa dengan hidup susah dan sederhana, hal yang benar-benar ditanamkan pada anak-anak dan ponakan-ponakan serta keluarganya. Merayap sedari nol hingga pensiun sebagai Kepala sekolah, berumah di rumah dinas hingga mempunyai rumah layak yang dibangun bata demi bata. Ibuku, mempunyai semangat sembuh yang luar biasa. dan aku masih ingat sekali ketika kami kecil, beliaulah tumpuaan kami saat bapak yang keras menegur kami. Bapak, walau keras, tapi beliau sangat sayang kepada anak-anaknya, cucunya dan keluarganya. Tak henti untuk menasehati, bahkan tak segan menegur keras apabila ada yang salah, serta agar kami selalu menyambung silahturahmi.

Sekarang pasti akan sangat kami rindukan masa-masa itu. Masa seperti saat bulan puasa, kami buka puasa bersama dengan masakan ibu dan sholat berjamaah di rumah. Masa ketika pulang dari SD diajak bapak mampir makan ke tukang sate di pojokan pasar. Masa menunggu ibu pulang dharma wanita atau arisan selalu membawa kue yang sengaja tidak dimakannya untuk dibawa pulang. Masa bisa bersalaman dan mencium tangan mereka saat lebaran dan seterusnya. Tidak akan ada lagi lebaran dengan bisa membelikan mereka baju koko atau kebaya, bahkan tidak akan pernah ada anak-anakku dan anak-anak adik-adikku ditimang oleh mereka. Dan semua yang tersisa hanya masa dimana kami bisa mengenang mereka, mendoakan mereka hingga bertemu mereka nanti di alam sana ketika takdirNya juga digariskan kepada kami…

Ya Tuhan, Allah SWT ampunilah dosa-dosa mereka, kasihanilah mereka, lindungilah dan maafkanlah mereka, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah mereka dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah mereka dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya didunia dengan rumah yang lebih baik di akhirat. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu dan lindungilah mereka dari siksa kubur atau siksa api neraka. Jadikahlah amal baik dari putra putri dan keturunan mereka sebagai amalan baik untuk mereka, dan janganlah jadikan segala kesalahan putra putri mereka sebagai pengurang amalan mereka, karena sesungguhnya mereka telah mengajarkan kepada kami mana yang baik dan mana yang benar. Ya Allah Yang Maha Baik, Maha Pengampun dan Maha Penyayang kabulkanlah doa kami ini yang telah ditinggalkan Bapak Ibunya…

New Life

dan akhirnya, satu tahap lagi tercapai. tahapan alur hidup yang sedari dulu sudah kugambarkan. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang akhirnya memberikan jalan dan berbagai banyak kemudahan sehingga bisa kutunaikan teladannya. Namanya Nurul Widya, dialah istriku. Wanita yang bersedia menemaniku membagi hari dan mengisi setiap malamku di hatinya. Menjadi sebelah rusukku dan mewarnai hidupku dengan tawa, suka dan sedihnya. Yang mau memintakan restu kepada Orang Tuanya untuk meneruskan jalannya denganku.

Aku, sangat bahagia sekali. Makasih Ya Rabb …
Baarokallahu laka wa baaroka ‘alayna wa jama’a baynakum fii khoiri

Makassar, 27 September 2012

withWife

writing helper

yup, kata itu yang sekarang dapat kuwakilkan dalam perasaanku dan memang harusnya sudah aku syukuri dari dulu. kebahagiaan yang dulu kuyakini bahwa sedih juga suatu bagian dari bahagia atau kebahagian yang lainnya mungkin. pun nyatanya di rumah aku masih tak jauh dari kata sendiri, masih mengisi hari dan malam-malam di rumah itu sendirian. tapi terlepas dari soal itu, kurasakan suatu lebih, dan bisa kusebut bahagia tepatnya. entahlah, mungkin karena suatu hal yang dulu menderu tapi sekarang dah hilang dan lepas atau satu hal lainnya ? tapi jika dirunut, ada beberapa hal yang terjadi dan buat sedikit demi sedikit kaki ini berpijak pada satu tahapan lebih. semoga Allah selalu melimpahkan kemudahan jalan dan menjaga semua perasaan ini, karena kuyakin, atas semua kesabaran dan penantianku selama ini, saat itu akan berkah pada waktunya, dan menyempurnakan keimanan ini seperti yang digariskan tauladanku, tauladan kita…

bouqet of roses

seikat bunga mawar yang kubeli di stasiun cikini
seusai diklat sore tadi
lalu akupun sembunyi di balik pot-pot di depan gedung warna biru itu
hampir setengah jam menunggu
ah dia terjebak kereta yang datang terlambat di kota
dan saat hari mulai gelap
terlihat dari jauh dirinya
semakin kuhimpitkan tubuhku di sela-sela rimbunnya perdu depan kampusnya
dan saat dia melewati gerbang tanpa aku terlihat
kubuntuti pelan-pelan dari belakang
kuacuhkan sahaja beberapa mudi-mudi yang aneh melihatku membawa bouqet itu
sambil tetap menahan dag dig dug
dannnnnn…
akhirnya kuberanikan diriku memberinya bunga itu
i love you
semoga segalanya tetap selalu indah seperti ini

menjadi ini adalah pilihan ?

ketika tanggal sedang tua-tuanya

pernahkah terbayang semasa kecil dulu menjadi seperti sekarang. berstatus PNS “Pegawai Negeri Sipil”, pekerja pemerintah kantoran. setelan necis putih hitam saat senin, dan batik ketika hari berganti jumat. masuk kerja teng pukul setengah delapan pagi dan baru pulang pukul 5 sore setiap hari senin sampai jumat. rela menempuh berkilo-kilo jauhnya dari rumah dan meninggalkan keluarga menuju tempat bekerja, pernahkah terbayang ?

kadang rasanya lelah sekali, sangat jauh dari angan-angan dan gambaran PNS yang bisa kulihat dari sosok bapak. aku ingat sekali, saat pagi beliau masih sempat mengantarkan kami ke sekolah, lalu ketika jam 12 siang sudah berada di rumah. masih bisa berkumpul dengan keluarga saat matahari masih tinggi-tingginya, masih sempat memantau kami apakah tidur siang atau membandel loncat dari jendela rumah pergi bermain bersama kawan2 di tepian sawah. terasa beda sekali dari bayangan itu, apalagi saat kulihat rekan-rekan lain yang rumahnya beribu kilo di seberang pulau, yang hanya bisa menemui keluarganya dua kali dalam sebulan, itupun dengan pengorbanan ongkos dan potongan absen yang tidak bisa dihindarkan.

menjadi seperti ini adalah pilihan ? masih teringat saat akhirnya memutuskan untuk menjadi mahasiswa kedinasan saat itu, atau mungkin anda saat mengikuti tes pegawai waktu dulu, sama sekali belum terbayang keadaan nantinya akan seperti ini. saat yang sama waktu itu harus memilih, menjadi pegawai atau tidak. namun satu hal yg sudah pasti saat itu, hal yang kupilih, menjadi pegawai, hingga nanti tak perlu repot-repot lagi mencari pekerjaan lain, tanpa memandang sisi konsekuensi, melihat tanggung jawab, keadaan dan kejadian di masa sekarang bila sudah menjadi pegawai.

susah sekali rasanya, melihat mereka dan mengalami sendiri yang dengan rela bergumul dengan macet, hujan, jauh, serapah, yang mungkin jika dilempar ke orang desa akan menjadi hal yang pasti ditolak mentah-mentah, karena jauh dari kesan kesederhanaan, dan kemudahan dalam bekerja, walau mungkin sangat berbeda output yang dihasilkan. tapi kurasa mereka, aku dan orang desa itu kejar adalah sama, penghasilan, untuk memenuhi kebutuhan hidup. tapi mengapa tidak bisa dibuat semudah orang-orang desa itu bekerja, atau semudah Bapakku dulu waktu bekerja, tempat kerja yang dekat dengan rumah, dan bisa mengawasi keluarganya.

pernahkah menyesal seperti ini? sesekali terbersit pemikiran itu. kenapa dulu tidak memutuskan menjadi wirausaha seperti fandi temanku sma, yang toh bisa juga menghidupi dirinya dan keluarganya. atau seperti ndop, yang karena kepandaiannya menggambar bisa menjadikan itu sebagai nafkah hidupnya, hanya di dalam kamarnya tanpa harus bekerja dan bermacet-macet ria seperti ini, toh aku juga bisa membuat karya seperti yang dibuatnya. tapi jika semua ditanyakan kenapa, pasti otak ini penuh dengan kata kenapa. lalu kucari pemikiran apa jawabannya dari pertanyaan tadi, kenapa ? mungkin memang takdirku harus disini, dan memang ini yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya, itulah jawaban yang selalu kujadikan patokan jika pikiran mulai tak bisa berkompromi dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. naif sekali, hanya karena takdir yang selalu kujadikan alasannya.

ketika pemikiran mulai jenuh dengan jawaban tadi, timbul pertanyaan apakah menjadi seperti ini adalah pilihan. lalu kujawab lagi dengan bahasa takdir. tapi bukankah takdir itu bisa kupilih sendiri saat ada suatu pilihan yang bisa kucentang A atau B ? seperti soal-soal betul atau salah saat ulangan dulu. mungkin dulu memang ketergesaanku waktu muda, tanpa melihat apakah konsekuensi di masa depan akan seperti ini, konsekuensi indah yang hanya kubayangkan waktu itu. dan memang, hal sekarang adalah konsekuen dari pilihan kita dulu. tapi toh semua tidak seburuk apa yang terjadi, masih banyak hal-hal baik dan cerah di jalan ke depan yang masih dan akan sangat panjang jika memang umur masih diperkenankan panjang olehNya.

tapi seiring bertambahnya usia seseorang, ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, pasti kita akan menimbang baik dan buruknya dari setiap pilihan tersebut, tidak terburu-buru memilih, entah itu soal pekerjaan atau karir, ataupun soal jodoh mungkin. jadi buat seseorang diluar sana, jika denganku adalah sebuah pilihan, dan ternyata jika aku adalah pilihanmu sebenarnya, maka percayalah, akan selalu kuusahakan yang terbaik buatmu, buat masa depan dan buat semuanya. amin. semoga aku bisa menjadi Imam yang baik buatmu …

Airmata Rasulullah Muhammad SAW

muhammad

image taken from : here

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam”, kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?”, tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
“Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?”, tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
“Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya.
“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”
“peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

“Ummatii,ummatii,ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

dari maillist

dua waktu

awal september ini, aku beranjak menuju jalan takdir lain, jalan ke depan yang masih jauh, namun pasti cepat bagiku, karena tiada lagi belenggu yang tidak berguna itu.

sedikit kilas balik, 2 tahun ini banyak hal yang terjadi, mulai dari awal tahun dimana Ibu alm. masih dalam keadaan sakit hingga beliau dipanggil oleh Allah SWT dalam usia yang masih dibilang muda 47 tahun. Perasaan rindu padanya ini pasti akan sangat membesar sampai kami dipertemukan kembali nantinya pun aku juga masih gamang apakah di dunia nanti perasaan kami masih seperti di dunia fana ini. Tapi terlepas dari itu, insyaAllah dalam setiap doa pasti kupanjatkan nama beliau.

kemudian beranjak ke masa setelah itu, alhamdulillah dah diberi ijin olehNya untuk menempati rumah di skitaran jagakarsa jaksel, namun kurasa sih hanya perpindahan tempat tidur, dari kamar semula yang hanya kurang dari 3 kali 3.5 meter pindah ke sebuah bangunan sederhana di pinggiran jakarta. Semuanya masih terasa sama seperti di slipi, malam-malam yang hening, tembok tembok yang baru dan semoga bukan sebuah tembok ratapan lagi namun tembok-tembok harapan, plus perasaan kehilangan teman-teman baik di slipi yang sewaktu masih disana bisa aku datangi kapan saja saat sepi datang.

lepas dari kedua hal tadi, ada satu peristiwa besar lagi, yup masa2 yang terulang lagi. tp ya sudahlah mampunya seperti itu dan akan selalu seperti itu.

———————————————————————————————–

berteman debu sepanjang jalan. meniti hari penuh keyakinan. masamu akan tiba kawan. jangan menyerah hanya kerna sebuah kerikil dan duri kecil yang mencoba mengganggu perputaran Jalinan cita cita yang sudah terpancang.