12 Februari dan 23 April

Posted: May 28, 2013 in fact

BapakIbu

jumat 12 februari 2010 dan selasa 23 April 2013

dua hari dimana aku menyaksikan ibu dan bapak ku dipanggil olehNya, dan tragisnya mereka berpulang di ruang ICU, dengan selang dan alat bantu pernafasan serta indikator2 lain di tubuhnya. Walau insyaAllah “semoga Allah melimpahkan rahmat dan magfirah nya selalu kepada kedua orang tuaku almarhum” mereka meninggal ketika sholatnya tanpa terputus sampai diambil olehnya tapi hati siapa yang tidak sedih ketika ditinggal kedua orang tuanya.

Ibu meninggal ketika usianya menginjak 48 tahun, ketika berusaha dengan keras melawan penyakit yang menyerangnya, dengan semangat untuk sembuh di salah satu rumah sakit terbaik di surabaya. Dan sedihnya, beliau belum sempat menimang cucu karena saat itu keponakanku anin masih dalam kandungan. Terbiasa hidup susah sedari beliau kecil karena ditinggal Kakekku yang meninggal akibat salah tangkap ketika pemberantasan PKI. Nama kakekku jumangin dicokok atas DPO yang bernama jumain, dan kemudian nenekku menikah lagi dan mengharuskan ibuku dirawat oleh nenek angkatku. Beberapa tahun saat sebelum ibu meninggal, adalah masa dimana beliau baru bisa sedikit merasakan kebahagiaan dari putra-putra nya yang sudah beranjak dewasa dan bekerja. Membangun dan melayakkan rumah yang sedari kecil keluarga kami tempati, menikmati sedikit dari hasil jerih payahku sendiri.

dan penghiburan, untuk meninggal ada banyak jalannya. ketika satu pintu tertutup, masih ada berjuta pintu kematian lainnya.

Tak jauh beda dengan ibu, bapak meninggal ketika usianya 63 tahun. Mengikuti usia Nabi junjungan kami, MUhammad SAW. Sifat disiplin dan keras hatinya yang membawanya rutin untuk berobat dan menjalani program dari dokter atas sakit yang menderanya. 6 bulan dari 9 bulan waktu program yang baru dijalankan, namun Allah berkehendak lain. selasa pagi itu ketika baru kubuka pintu kamar Rumah sakit tempat beliau di rawat, kusaksikan dengan mata putra nya ini tubuhnya tidak lagi kekar seperti dahulu, atau sesegar bulan september tahun kemarin ketika resepsi pernikahanku. Walau sebelum-sebelumnya doaku adalah agar supaya diangkat penyakit beliau, disehatkan dan dipanjangkan umurnya karena anak-anakku nanti pasti bangga dan ingin bertemu kakeknya yang keras ini, namun ba’da magrib itu ketika beliau koma untuk kedua kali kurubahkan doaku, kuikhlaskan beliau. Dan tak henti aku dan adik2ku serta ibu tiriku membacakan ayat2 Al Quran didekatnya, menuntunnya hingga diambil olehNYa.

Ibuku menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah aku menginjakkan kaki di ruang tempat beliau di rawat, saat Bapak, kedua adikku dan diriku berada didekatnya. Begitu pula dengan bapak, ketika adikku baru datang dari surabaya malam itu beliau berpulang, disamping anak2nya. Ditengah sedih, kami senantiasa bersyukur bahwa disaat-saat terakhir orang tua kami, kami disempatkan berada di dekat mereka.

Banyak orang berani untuk mati dan itu sudah biasa, namun orang hebat dan istimewa adalah ketika berani menghadapi dan menyelesaikan keadaan hidup yang susah. Bapak dan Ibuku sedari mereka kecil ditinggal kedua orang tuanya. Kakek dan nenek dari bapak meninggal ketika bapak masih kecil, entah apa sebabnya. Mereka terbiasa dengan hidup susah dan sederhana, hal yang benar-benar ditanamkan pada anak-anak dan ponakan-ponakan serta keluarganya. Merayap sedari nol hingga pensiun sebagai Kepala sekolah, berumah di rumah dinas hingga mempunyai rumah layak yang dibangun bata demi bata. Ibuku, mempunyai semangat sembuh yang luar biasa. dan aku masih ingat sekali ketika kami kecil, beliaulah tumpuaan kami saat bapak yang keras menegur kami. Bapak, walau keras, tapi beliau sangat sayang kepada anak-anaknya, cucunya dan keluarganya. Tak henti untuk menasehati, bahkan tak segan menegur keras apabila ada yang salah, serta agar kami selalu menyambung silahturahmi.

Sekarang pasti akan sangat kami rindukan masa-masa itu. Masa seperti saat bulan puasa, kami buka puasa bersama dengan masakan ibu dan sholat berjamaah di rumah. Masa ketika pulang dari SD diajak bapak mampir makan ke tukang sate di pojokan pasar. Masa menunggu ibu pulang dharma wanita atau arisan selalu membawa kue yang sengaja tidak dimakannya untuk dibawa pulang. Masa bisa bersalaman dan mencium tangan mereka saat lebaran dan seterusnya. Tidak akan ada lagi lebaran dengan bisa membelikan mereka baju koko atau kebaya, bahkan tidak akan pernah ada anak-anakku dan anak-anak adik-adikku ditimang oleh mereka. Dan semua yang tersisa hanya masa dimana kami bisa mengenang mereka, mendoakan mereka hingga bertemu mereka nanti di alam sana ketika takdirNya juga digariskan kepada kami…

Ya Tuhan, Allah SWT ampunilah dosa-dosa mereka, kasihanilah mereka, lindungilah dan maafkanlah mereka, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah mereka dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah mereka dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya didunia dengan rumah yang lebih baik di akhirat. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu dan lindungilah mereka dari siksa kubur atau siksa api neraka. Jadikahlah amal baik dari putra putri dan keturunan mereka sebagai amalan baik untuk mereka, dan janganlah jadikan segala kesalahan putra putri mereka sebagai pengurang amalan mereka, karena sesungguhnya mereka telah mengajarkan kepada kami mana yang baik dan mana yang benar. Ya Allah Yang Maha Baik, Maha Pengampun dan Maha Penyayang kabulkanlah doa kami ini yang telah ditinggalkan Bapak Ibunya…

New Life

Posted: September 27, 2012 in story

dan akhirnya, satu tahap lagi tercapai. tahapan alur hidup yang sedari dulu sudah kugambarkan. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang akhirnya memberikan jalan dan berbagai banyak kemudahan sehingga bisa kutunaikan teladannya. Namanya Nurul Widya, dialah istriku. Wanita yang bersedia menemaniku membagi hari dan mengisi setiap malamku di hatinya. Menjadi sebelah rusukku dan mewarnai hidupku dengan tawa, suka dan sedihnya. Yang mau memintakan restu kepada Orang Tuanya untuk meneruskan jalannya denganku.

Aku, sangat bahagia sekali. Makasih Ya Rabb …
Baarokallahu laka wa baaroka ‘alayna wa jama’a baynakum fii khoiri

Makassar, 27 September 2012

withWife

writing helper

Posted: June 18, 2012 in story

yup, kata itu yang sekarang dapat kuwakilkan dalam perasaanku dan memang harusnya sudah aku syukuri dari dulu. kebahagiaan yang dulu kuyakini bahwa sedih juga suatu bagian dari bahagia atau kebahagian yang lainnya mungkin. pun nyatanya di rumah aku masih tak jauh dari kata sendiri, masih mengisi hari dan malam-malam di rumah itu sendirian. tapi terlepas dari soal itu, kurasakan suatu lebih, dan bisa kusebut bahagia tepatnya. entahlah, mungkin karena suatu hal yang dulu menderu tapi sekarang dah hilang dan lepas atau satu hal lainnya ? tapi jika dirunut, ada beberapa hal yang terjadi dan buat sedikit demi sedikit kaki ini berpijak pada satu tahapan lebih. semoga Allah selalu melimpahkan kemudahan jalan dan menjaga semua perasaan ini, karena kuyakin, atas semua kesabaran dan penantianku selama ini, saat itu akan berkah pada waktunya, dan menyempurnakan keimanan ini seperti yang digariskan tauladanku, tauladan kita…

bouqet of roses

Posted: June 11, 2012 in story

seikat bunga mawar yang kubeli di stasiun cikini
seusai diklat sore tadi
lalu akupun sembunyi di balik pot-pot di depan gedung warna biru itu
hampir setengah jam menunggu
ah dia terjebak kereta yang datang terlambat di kota
dan saat hari mulai gelap
terlihat dari jauh dirinya
semakin kuhimpitkan tubuhku di sela-sela rimbunnya perdu depan kampusnya
dan saat dia melewati gerbang tanpa aku terlihat
kubuntuti pelan-pelan dari belakang
kuacuhkan sahaja beberapa mudi-mudi yang aneh melihatku membawa bouqet itu
sambil tetap menahan dag dig dug
dannnnnn…
akhirnya kuberanikan diriku memberinya bunga itu
i love you
semoga segalanya tetap selalu indah seperti ini

menjadi ini adalah pilihan ?

Posted: January 31, 2012 in story

ketika tanggal sedang tua-tuanya

pernahkah terbayang semasa kecil dulu menjadi seperti sekarang. berstatus PNS “Pegawai Negeri Sipil”, pekerja pemerintah kantoran. setelan necis putih hitam saat senin, dan batik ketika hari berganti jumat. masuk kerja teng pukul setengah delapan pagi dan baru pulang pukul 5 sore setiap hari senin sampai jumat. rela menempuh berkilo-kilo jauhnya dari rumah dan meninggalkan keluarga menuju tempat bekerja, pernahkah terbayang ?

kadang rasanya lelah sekali, sangat jauh dari angan-angan dan gambaran PNS yang bisa kulihat dari sosok bapak. aku ingat sekali, saat pagi beliau masih sempat mengantarkan kami ke sekolah, lalu ketika jam 12 siang sudah berada di rumah. masih bisa berkumpul dengan keluarga saat matahari masih tinggi-tingginya, masih sempat memantau kami apakah tidur siang atau membandel loncat dari jendela rumah pergi bermain bersama kawan2 di tepian sawah. terasa beda sekali dari bayangan itu, apalagi saat kulihat rekan-rekan lain yang rumahnya beribu kilo di seberang pulau, yang hanya bisa menemui keluarganya dua kali dalam sebulan, itupun dengan pengorbanan ongkos dan potongan absen yang tidak bisa dihindarkan.

menjadi seperti ini adalah pilihan ? masih teringat saat akhirnya memutuskan untuk menjadi mahasiswa kedinasan saat itu, atau mungkin anda saat mengikuti tes pegawai waktu dulu, sama sekali belum terbayang keadaan nantinya akan seperti ini. saat yang sama waktu itu harus memilih, menjadi pegawai atau tidak. namun satu hal yg sudah pasti saat itu, hal yang kupilih, menjadi pegawai, hingga nanti tak perlu repot-repot lagi mencari pekerjaan lain, tanpa memandang sisi konsekuensi, melihat tanggung jawab, keadaan dan kejadian di masa sekarang bila sudah menjadi pegawai.

susah sekali rasanya, melihat mereka dan mengalami sendiri yang dengan rela bergumul dengan macet, hujan, jauh, serapah, yang mungkin jika dilempar ke orang desa akan menjadi hal yang pasti ditolak mentah-mentah, karena jauh dari kesan kesederhanaan, dan kemudahan dalam bekerja, walau mungkin sangat berbeda output yang dihasilkan. tapi kurasa mereka, aku dan orang desa itu kejar adalah sama, penghasilan, untuk memenuhi kebutuhan hidup. tapi mengapa tidak bisa dibuat semudah orang-orang desa itu bekerja, atau semudah Bapakku dulu waktu bekerja, tempat kerja yang dekat dengan rumah, dan bisa mengawasi keluarganya.

pernahkah menyesal seperti ini? sesekali terbersit pemikiran itu. kenapa dulu tidak memutuskan menjadi wirausaha seperti fandi temanku sma, yang toh bisa juga menghidupi dirinya dan keluarganya. atau seperti ndop, yang karena kepandaiannya menggambar bisa menjadikan itu sebagai nafkah hidupnya, hanya di dalam kamarnya tanpa harus bekerja dan bermacet-macet ria seperti ini, toh aku juga bisa membuat karya seperti yang dibuatnya. tapi jika semua ditanyakan kenapa, pasti otak ini penuh dengan kata kenapa. lalu kucari pemikiran apa jawabannya dari pertanyaan tadi, kenapa ? mungkin memang takdirku harus disini, dan memang ini yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya, itulah jawaban yang selalu kujadikan patokan jika pikiran mulai tak bisa berkompromi dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. naif sekali, hanya karena takdir yang selalu kujadikan alasannya.

ketika pemikiran mulai jenuh dengan jawaban tadi, timbul pertanyaan apakah menjadi seperti ini adalah pilihan. lalu kujawab lagi dengan bahasa takdir. tapi bukankah takdir itu bisa kupilih sendiri saat ada suatu pilihan yang bisa kucentang A atau B ? seperti soal-soal betul atau salah saat ulangan dulu. mungkin dulu memang ketergesaanku waktu muda, tanpa melihat apakah konsekuensi di masa depan akan seperti ini, konsekuensi indah yang hanya kubayangkan waktu itu. dan memang, hal sekarang adalah konsekuen dari pilihan kita dulu. tapi toh semua tidak seburuk apa yang terjadi, masih banyak hal-hal baik dan cerah di jalan ke depan yang masih dan akan sangat panjang jika memang umur masih diperkenankan panjang olehNya.

tapi seiring bertambahnya usia seseorang, ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, pasti kita akan menimbang baik dan buruknya dari setiap pilihan tersebut, tidak terburu-buru memilih, entah itu soal pekerjaan atau karir, ataupun soal jodoh mungkin. jadi buat seseorang diluar sana, jika denganku adalah sebuah pilihan, dan ternyata jika aku adalah pilihanmu sebenarnya, maka percayalah, akan selalu kuusahakan yang terbaik buatmu, buat masa depan dan buat semuanya. amin. semoga aku bisa menjadi Imam yang baik buatmu …

bohlam di langit pustaka

Posted: October 7, 2011 in Uncategorized

tampak dari balik tirai coklat yang sama semusim gugur kemudian, daun-daun pohon trembesi mulai berguguran, menorehkan warna emas tua di tepi jalan. samar-samar cahaya menembus sarang laba-laba yang mulai bertumbuhan dipojokan ruangan. waktu serasa berhenti beberapa lama semasa udara pengap yang mengawang diatas rak rak lusuh untuk saat-saat itu dan jarum jam masih saja menunjuk angka tiga sebelum kematiannya 2 jam lalu, atau kemarin, atau kapan lalu, ingatku 2 jam sebelum jam itu mati aku masih bisa melihat jarumnya di angka 1.

namun pagi itu terasa lain, musim gugur memang, tapi serasa ada jiwa baru untuk pustaka ini. dan benar saja, tak berapa lama pintu berderit dan terbuka. samar samar nampak sesosok baru memasuki ruangan, masih terlalu pagi atau memang kaca pecah ini terlalu susah untuk melihat seisi ruangan ini lagi.

sambil melihat ke seluruh penjuru ruangan, di rapikannya tumpukan buku usang di meja dengan benda berlayar cembung di dekat pintu itu. ketika didapatinya kunci ruang masih tergeletak di meja, dipungut dan disimpannya kedalam tas kerjanya. tampak aroma lain menyeruak mengisi segenap udara di ruangan itu ketika tampak tulisan “librarian” di name tag yang dikenakannya. foto cantik yang terpampang pada name tag itu menandakan sosok itu seorang wanita, menggantikan wanita yang sebelumnya.

dan waktupun berhenti, lelah sekali kaca bohlam tua ini.

———————————————————————————–

“kotor sekali ruangan ini” gumamku sambil membersihkan debu yang ikut menempel di kerah.

akupun beranjak meraih sapu dan dan kemoceng yang teronggok di belakang meja tunggu ini, meja kerja baruku. kususur lorong-lorong sempit itu dengan sapu sembari merapikan tatanan buku. dan seketika hilanglah semua debu dan kotor di penjuru pustaka itu.

———————————————————————————–

dan pintu ruangan berderit ketika ditutup. aku terbangun. kudapati bayang wanita itu menjauh meninggalkan pustaka ini dan perlahan hilang ditelan barisan pohon trembesi dipinggir jalan. saat kualihkan pandangan kebawah. barisan rak nampak rapi dan bersih, kilatan cahaya sesekali dipantulkan dari lantai yang tampak sudah mengkilap. tirai coklat bergoyang kegirangan ketika udara menembus kaca yang lama sekali baru terbuka. dan tak berapa lama pintu terbuka kembali. nampak dia menenteng plastik hitam entah berisi apa, kemudian diangkat dan dibawanya kursi kebawah langit-langitku sambil membuka plastik hitam tadi. kupicingkan kaca pecah ini untuk memastikannya, namun karena terlalu memaksa tiba-tiba semua warna menjadi pudar.

semburat putih mengaburkan dan menjemput sadarku sekali lagi.

———————————————————————————–

“ah, tinggi sekali letak bohlam pecah ini” pekikku sembari berusaha memutar, melepaskan lampu itu dari dudukannya. dan tak lama bohlam dengan kaca baru yang sedari tadi tersimpan di plastik hitam sudah terpasang kembali di langit yang sama, kemudian dengan agak terhuyung kuangkat kursi untuk pijakan tadi kembali ke tempatnya semula.

———————————————————————————–

tampak warna pelangi disela ujung kacaku saat terbangun, dan perlahan memudar berganti warna terang benderang secerah seharusnya. dan akupun tersenyum sendiri merasakan keajaiban ini, jiwa dan raga baruku yang sekarang terpampang di langit pustaka ini. terima kasih, dan sejuta kebahagiaanku kuucapkan untukmu. secepatnya kualihkan pandangan ke meja diujung pintu, namun tak kudapati wajah cantik itu disana.

“i …., i looooove, i lovee you” terdengar suara terbata disisi lain rak buku.

dan seketika kudapati pemuda idiot itu tengah melafalkan kalimat judul buku itu, barulah aku tersadar, seselama ini dia bersama kami menunggui wanita itu datang. dan baru sekali ini tampak wajahnya olehku, rupawan dan sederhana, ah sayang dia agak “terbelakang”.

“i love you”, kali ini lantang dan penuh semangat tanpa terbata ujar pemuda tadi.

oh, dibaliknya tampak wanita itu disana, sedari tadi mengajarinya membaca judul buku hitam itu yang bertahun dicoba dibacanya. tampak rona bahagia padanya, sembari bergumam “terima kasih” mewakili kegembiraannya dan mewakili terima kasih kami semua. diulaskan senyum, senyum yang diacuhkan penjaga sebelumnya, kemudian beruluk salam takzim dan bergegas menuju keluar ruang pustaka ini, untuk mencoba semua hal-hal baru di musim gugur dan musim musim lainnya nanti di luar sana. hari-hari yang sudah pasti cerah, tanpa suram dan gelap lalu.

sekarang dari sini dapat kucium wangi aroma lemon musim gugur yang ditebarkan pada udara ruang ini, dan cahaya menerobos memasuki sela sela buku di tiap rak yang berlabirin-labirin, menjadikannya petunjuk untuk membaca tiap huruf yang menyembul di masing-masing kolom. gema suara pemuda idiot tadi, “i love you” seakan abadi bergaung hingga bisa memaksa jarum jam yang mati menjadi berdetak kembali. namun hal yang seakan menjadi permata di ruangan ini, tiada lain di ujung meja di dekat pintu, pada sesosok wanita sederhana itu, bidadari pemberi semangat pada jiwa yang mulai hampa…

kesaksian bohlam tua

Posted: October 6, 2011 in Uncategorized

rona sore yang sama kulihat, tampak siluet matahari sore diantara tirai coklat usang di kolom ruangan itu. jejeran rak tampak rapi memanjang membentuk labirin dengan deret-deret abjad judul buku yang menyembul di masing-masing sisinya. bahkan, orang yang belum pernah kesitu pun pasti akan tersesat di ujung lorong rak-rak buku itu, sempit dan miskin cahaya, apalagi menjelang petang seperti sore yang sama ini. di ujung pintu, bersembunyi diantara tumpukan buku tua yang belum sempat dikembalikan ke raknya, atau bahkan tidak ingin dikembalikannya untuk menutupi mejanya dari pandangan orang yang mungkin melihatnya di ruangan itu atau sekedar berolok bahwa banyak yang membaca dan meminjam buku di pustaka itu, seorang wanita berkacamata tebal sedang berkutat dengan solitaire dan chat room yang tersedia di layar cembung itu.

ketika malam mulai beranjak naik, sambil bermalas, disangkutnya saklar lampu disamping meja sekenanya. seketika lampu pada tiap-tiap ujung ruangan dan sebuah lampu besar di tengah menyala redup dan perlahan benderang. diperhatikannya tiap-tiap sudut ruangan itu, hingga pada satu titik dia terperangah.

“huh, dia lagi”, gerutunya dalam hati mungkin, ketika disadarinya tampak di sudut ruangan ada seorang pembaca yang sibuk dengan bukunya.

pemuda kurus di ujung rak itu, setengah “terbelakang” mentalnya, aku tahu, menurut penjaga sebelumnya yang sudah dua tahun sebelum dia,yang berkata kepada wanita itu. wanita yang menggantikan penjaga sebelumnya hingga sekarang tahun ke empatnya menjaga pustaka itu,dia pemuda idiot selalu belajar mengeja dengan buku yang sama di ujung rak itu. dari setiap jam buka hingga pustaka itu tutup, tapi entah, apa pemuda itu terlalu idiot atau memang hal lain yang menyebabkan pemuda itu selalu disitu.

“ah apa urusanku dengannya”, gumamnya lagi mungkin sembari meneruskan obrolan mayanya.

tak lama, pekik adzan isya berkumandang lirih menembus pintu kaca yang sengaja sedikit dibuka untuk menandakan pustaka itu buka. dari atas langit-langit dapat kulihat, dialihkannya pandangan ke ujung rak, dan masih tampak pemuda kurus itu tergagap-gagap, seperti berusaha mengeja kata atau bahkan huruf yang sukar dibacanya atau entahlah, sukar diingatnya, atau bahkan memang dia terlalu bodoh untuk sekedar bisa membaca. lalu selama ini sedang apa dia. tampak pikiran wanita itu berkecamuk…

“bodoh apa?”, mungkin fikirnya, dan tampak sambil pelan-pelan beranjak dari kursi malasnya itu.

seketika dia berjalan pelan menuju arah rak itu, hingga pemuda tadi tiada menyadari kehadirannya. sembari melongok dari punggung pemuda itu, diintipnya apa yang sedang dibacanya. ternyata dia hanya memegangi buku berwarna hitam bertuliskan beberapa huruf berwarna merah muda atau mungkin merah darah di sampul kelamnya. terlihat seperti berusaha membaca judul buku itu, namun dengan terbata-bata dan berusaha mengingat-ingat itu huruf apa.

“I …..E YOU” ah sial, tiga huruf di depan huruf e pada judul sampul buku itu tertutup lengan pemuda idiot tadi” gerutu wanita tadi dalam hati mungkin.

ketika pemuda tadi menyadari ada seseorang di belakangnya, dia berbalik dan diulaskannya senyum kecil kepada penjaga pustaka.

“aih, knp tersenyum lo!!!”, terdengar hardik wanita itu sembari bergegas berlalu pergi kembali ke mejanya ketika pemuda tadi menyadari kehadirannya sambil menyesali kebodohannya pergi ke ujung rak itu.

namun sejurus kemudian, seringai senyum merona dibalik wajah wanita itu kudapati dari atas sini, ketika dari balik layar cembungnya didapati sebaris ajakan makan malam dari pujaan hati yang beberapa waktu mendekatinya dan juga menawarkan pekerjaan baru baginya. sambil membayangkan hangatnya suasana restoran favoritnya, diseling iring-iringan musik sambil menikmati santap malamnya, sesegera dia bergegas, mengemasi barang-barangnya dan mencabut paksa colokan listrik mesin berlayar cembung itu, dan mematikan lampu ruangan pustaka itu. seketika menjadi gelap, dan wanita itu bergegas keluar dari ruangan itu . meninggalkan kunci ruang pustaka tergeletak disamping meja, dan mematikan semangat pemuda idiot itu untuk belajar membaca, atau entah pemuda itu benar-benar berniat belajar membaca dan mengeja kalimat I LOVE YOU atau I HATE YOU yang dari langit-langit ini terlalu samar terlihat, atau hanya berpura membaca untuk menemani wanita tadi menjaga perpustakaan yang selalu sepi itu. atau entahlah, toh tiada orang lain yang ingin tahu .

aku, sebuah bohlam tua dan pecah di ujung langit-langit pustaka itu.